<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666</id><updated>2011-04-22T03:58:04.800+07:00</updated><category term='Hadits'/><category term='Fiqh'/><category term='Manhaj'/><category term='Kontemporer'/><category term='Aqidah'/><category term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><category term='Bid&apos;ah'/><category term='Fatwa'/><category term='Masalah Anda'/><title type='text'>Artikel Islamy</title><subtitle type='html'>Artikel yang ada di Blog ini diambil dari edisi cetak Majalah An-Nashihah (terutama edisi-edisi awal) dan sumber-sumber yang lain</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-2868931471116872470</id><published>2009-03-09T10:04:00.000+07:00</published><updated>2009-03-09T10:06:23.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><title type='text'>Fatwa Ulama Besar tentang Peringatan Maulid Nabi</title><content type='html'>Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia." [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahullah- berkata, "Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-? Cinta kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti syari’at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , atau itu adalah bid’ah hasanah. Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yakni perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh bin Baaz-rahimahullah- menjawab, "Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda, "Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat." [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya ." (QS. Al-Hasyr :7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS.An-Nur :63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.Al-Ahzab :21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS.Al-Maidah :3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka." [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أََمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat." [HR.Muslim Shohih-nya (867)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-, Anda bisa lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, "Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh bin Baaz menjawab, "Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala-berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS.Al-Maidah : 104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS.An-Nahl :125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) diantara mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka." (QS. An-Nisa’: 61-63); dan ayat-ayat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." [HR.Muslim (49)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya". [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (5591), dan Al-Bida’ wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-630)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya.&lt;br /&gt;Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari situs &lt;a href="http://almakassari.com/?p=321" target="_blank"&gt;http://almakassari.com/?p=321&lt;/a&gt;, judul asli Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-2868931471116872470?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/2868931471116872470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/fatwa-ulama-besar-tentang-peringatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2868931471116872470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2868931471116872470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/fatwa-ulama-besar-tentang-peringatan.html' title='Fatwa Ulama Besar tentang Peringatan Maulid Nabi'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-7918030157819442376</id><published>2009-03-09T09:29:00.003+07:00</published><updated>2009-03-09T10:04:08.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><title type='text'>Perlukah Maulid Diperingati?</title><content type='html'>Hari ini, tanggal 9 Maret 2009, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1430Hal  yang katanya merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.&lt;br /&gt;Sudah sejak lama, beberapa kalangan menganggap hal ini tidak perlu diperingati, selain karena beliau Shallallahu Alaihi Wasallam  dan para shahabat tidak pernah melakukannya, juga karena adanya kontoversi sekitar tanggal kelahiran itu.&lt;br /&gt;Berikut tulisan dari situs http://aalmakassari.com yang berjudul "Peringatan Maulid dalam Sorotan". Selamat menyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERINGATAN MAULID DALAM SOROTAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hari itu istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kedatangan tiga shahabat menanyakan perihal ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sesampainya mereka disana diceritakanlah kepada mereka seperti apa ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, selesai mereka menyimak keterangan para pendamping Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seolah-olah mereka masih menganggapnya belum seberapa. Maka berkatalah salah seorang dari mereka; “Saya akan shalat malam selama-lamanya”. Kata yang kedua; “Kalau saya, saya akan berpuasa dan tidak berbuka”. Yang terakhir menyela; “Dan saya, saya akan menjauhi wanita-wanita dan tidak akan menikah”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak lama, sampailah kepada beliau laporan ucapan-ucapan ketiga shahabatnya tadi. Maka beliau pun berkata lantang dihadapan mereka; “Kenapa masih ada orang-orang yang mengatakan ini dan itu, sungguh demi Allah, ketahuilah; saya adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah dari pada kalian, tapi saya shalat malam dan saya juga tidur, saya puasa dan saya juga berbuka dan saya menikahi wanita-wanita…barangsiapa yang tidak suka dengan ajaranku maka dia bukan dari golonganku”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah makna hadist Anas Radiyallahu Anhu yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam Shahihnya. Hadits ini seolah-olah terus menegur dan mengingatkan kita, bahwa ada satu hal dari sunnah nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sering kali luput dari pengamatan yaitu yang dinamakan para ulama dengan sunnah tarkiyyah. Sunnah Tarkiyyah adalah semua yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semasa hidupnya maka sunnah bagi kita untuk meninggalkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena sunnah ada dua; sunnah fi’liyyah dan sunnah tarkiyyah. Yang pertama; setiap yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah bagi kita untuk melakukannya. Dan yang kedua; setiap yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah bagi kita untuk tidak melakukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Diantara contoh sunnah tarkiyah adalah hadist Anas Ra diatas. Karena itu Al Hafidz Ibnu Rajab berkata; “…adapun hal-hal yang telah disepakati oleh salaf untuk ditinggalkan, maka tidak boleh mengamalkannya, karena mereka meninggalkannya atas dasar ilmu bahwa hal tersebut tidak disyariatkan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dihari-hari ini, dibulan Rabi’ul Awal, umumnya kaum muslimin merayakan perayaan ritual tahunan yang biasa dikenal dengan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau Mauludan. Tidak sedikit harta yang dinafkahkan pada perayaan ini, sampai-sampai dibeberapa tempat dana yang dihabiskan untuk mensukseskannya terkadang mencapai puluhan juta. Tapi harus kita akui bersama, hanya sedikit –dari sekian besar dana yang dibelanjakan untuk acara ini- yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin apabila ditinjau dari perbaikan akhlak dan sikap beragama mereka, kalau tidak boleh mengatakan; “Tidak ada manfaatnya”. Bukti akan hal ini terlalu banyak untuk disebutkan. Dan setiap kita cukup sebagai saksi dari gagalnya seremonial tahunan ini dalam mengangkat moral ummat dan mengembalikan kesadaran beragama mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara tersebut merupakan ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita sendiri?! Dengannya kita bisa melakukan napak tilas sejarah kehidupan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?! Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?! Semua ini adalah niatan baik yang melatar belakangi perayaan tersebut, tapi seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud kepada orang-orang yang didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji dan mengingat Allah Ta’ala, kata Ibnu Mas’ud, “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”. Hal ini karena mereka melakukan suatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semasa hidupnya, ini juga yang hampir dilakukan oleh tiga orang shahabat nabi dalam kisah diatas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ungkapan kegembiraan, napak tilas kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya dengan menerapkan ajarannya dalam kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama diantaranya sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan dengan cara-cara yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi yang mulia, shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perayaan ini tidak dikenal di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, generasi pertama ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat, Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang menanggung dosa pertama dari bid’ah maulid ini? Orang yang pertama kali mengadakan perayaan ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga Ubaidiyyun ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut adalah seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja Mudhofir, penguasa Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah menjelaskan bahwa Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak Asy-Syaikh Umar bin Muhammad Al Mulaa tokoh kebatinan dan dialah orang yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelompok yang membolehkan maulid beralasan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang diharuskan karena Al-Qur’an memerintahkannya&lt;/strong&gt; sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah Ta’ala :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;{قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ}&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Qs. Yunus; 58).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’ala berfirman;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ }&lt;/p&gt; &lt;p&gt; “Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Qs. Al Anbiya’; 107)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sanggahannya&lt;/strong&gt;; Bergembira dengan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya disetiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua; pengambilan dalil surat Yunus; 58 untuk melegalkan acara maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat sebelumnya;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ }&lt;/p&gt; &lt;p&gt; “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Yunus; 57).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ibnu Katsir menerangkan; “Firman Allah Ta’ala “rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman” maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman dengan Al-Qur’an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا}&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al Israa’; 82).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2- Syubhat kedua; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri mengagungkan hari kelahirannya, beliau mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab; “Pada hari itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku”.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sanggahannya&lt;/strong&gt;; Hadist Abu Qatadah Ra diatas adalah hadist yang shahih, tapi menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merayakan sendiri kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih, pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1- Diriwayatkan dalam hadist yang lain, bahwa puasa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dihari senin, karena amalan dihari itu diperlihatkan kepada Allah Ta’ala.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2- Kalau ucapan mereka benar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa dalam rangka merayakan kelahirannya, kenapa tidak ada seorang pun dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang memahami sabda diatas dengan pemahaman demikian. Kemudian datang orang-orang belakangan yang memahami puasa beliau di hari senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya, lalu dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan maulid!! Apakah mereka lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia dan hanya diketahui oleh orang yang datang belakangan?! Sungguh ajaib logika orang-orang pintar akhir zaman hasbunallahu wani’mal wakiil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3- Syubhat ketiga; perkataan mereka; “Perayaan Maulid memang bid’ah, tapi bid’ah hasanah (baik)”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sanggahannya&lt;/strong&gt;; cukup dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Setiap bid’ah adalah sesat”. Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar Ra kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; “Setiap bid’ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya baik”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Al Imam Malik rahimahullah berkata; “Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta’ala berfirman;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ}&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3) maka segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula agama dihari ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber : http://mimbarislami.or.id/?module=artikel&amp;amp;action=detail&amp;amp;arid=160&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-7918030157819442376?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/7918030157819442376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/perlukah-maulid-diperingati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7918030157819442376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7918030157819442376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/perlukah-maulid-diperingati.html' title='Perlukah Maulid Diperingati?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-8913084715297239000</id><published>2009-03-08T09:14:00.000+07:00</published><updated>2009-03-08T09:16:40.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontemporer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>HUKUM BISNIS DENGAN SISTIM MLM</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tentu tidak asing lagi dengan bisnis yang satu ini yaitu Bisnis Multi Level Marketing. Bisnis MLM ini cukup banyak di Indonesia baik yang dilaksanakan secara online ataupun offline ( nggak pakai internet gitu ..). Banyak juga berhasil walaupun mungkin (mungkin loh )lebih banyak yang gagal. Gagal dalam artian tidak berhasil mencapai target yang diimpi-impikan. Namun dari keberhasilan dan kegagalan para pebisnis MLM ini banyak orang yang mempertanyakan mengenai hukum berbisnis dengan cara ini. Kemarin tgl 11 Desember 2008 saya membeli sebuah majalah yang membahas tentang Hukum Berbisnis dengan MLM ini.&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Berikut Petikan Isi dari Majalah Tersebut&lt;span id="more-103"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Telah sampai pertanyaan yang sangat banyak kepada Al-Lajnah Ad-Daimah Li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta (komisi khusus bidang riset ilmiyah dan fatwa. Beranggotakan ulama-ulama terkemuka di Saudi Arabia bahkan menjadi rujukan kaum muslimin di berbagai belahan bumi) tentang aktifitas perusahaan-perusahaan pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM) seperti BIZNAS dan Hibah Al-Jazirah. Kesimpulan aktifitas mereka adalah berusaha meyakinkan seseorang untuk membeli sebuah barang atau produk agar dia juga mampu meyakinkan orang lain untuk membeli produk tersebut demikian seterusnya. Setiap kali bertambah tingkatan anggota dibawahnya(downline), maka orang yang pertama akan mendapatkan komisi-komisi sangat yang mungkin dia dapatkan sepanjang berhasil merekrut anggota-anggota baru setelahnya kedalam daftar para angota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Jawaban&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Lajnah menjawab pertanyaan diatas sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sesungguhnya transaksi sejenis ini adalah haram. Hal tersebut karena tujuan dan transaksi itu adalah komisi dan bukan produk. Terkadang komisi dapat mencapai puluhan ribu sedangkan harga produk tidaklah melebihi sekian ratus. Seorang yang berakal ketika dihadapkan diantara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu sandaran perusahaan-perusahaan ini dalam memasarkan dan mempromosikan produk mereka adalah menampakkan jumlah komisi yang besar yang mungkin didapatkan oleh anggota dan mengiming-imingi mereka dengan keuntungan yang melampaui batas sebagai imbalan.dari modal yang kecil yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan ini hanya sekedar label dan pengantar untuk mendapatkan komisi dan keuntungan. Tatkala ini adalah hakikat dari transaksi diatas, maka dia adalah haram karena beberapa alasan.:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt;: transaksi tersebut mengandung riba dengan dua jenisnya; riba fadhal (penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy (yaitu barang yang berlaku pada hukum riba) yang sejenis pada transaksi yang kontan.) dan riba nasi’ah (transaksi antara dua jenis barang ribawy yang sama sebab ribanya dengan tidak secara kontan). Anggota membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya. Maka ia adalah barter uang dengan bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak cash). Dan ini adalah riba yang diharamkan menurut nash (Al-Qur’an dan Sunnah) serta kesepakatan para ulama. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota (untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya), sehingga (keberadaan produk) tidak berpengaruh dalam hukum (transaksi ini).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt; : ia termasuk gharar (apa yang belum diketahui akan diperoleh atau tidak, dari sisi hakikat dan kadarnya) yang diharamkan menurut syariat, karena anggota tidak mengetahui apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak? Dan bagaimanapun pemasaran berjejaring atau berpiramida itu berlanjut dan pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung kedalam piramida, apakah dia berada ditingkatan teratas sehingga ia berunyung atau berada ditingkatan bawah sehingga ia merugi. Dan kenyataannya kebanyakan anggota piramida merugi kecuali sangat sedikit ditingkatan atas. Kalau begitu, yang mendominasi adalah kerugian.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dan ini adalah hakikat gharar, yaitu ketidakjelasan antara dua perkara, yang paling mendominasi antara keduanya adalah yang dikhawatirkan. Dan Nabi shollallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang dari gharar sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tiga&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt; : apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa memakan harta manusia dengan kebatilan, dimana tidak ada yang mengambil keuntungan dari akad ini selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan dengan tujuan menipu anggota lainnya. Dan hal inilah yang datang nash pengharamannya dalam firman Allah Ta’ala:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil &lt;span&gt; &lt;/span&gt;(An-Nisa’ : 29)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Empat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt; : apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa penipuan, pengkaburan dan penyamaran terhadap manusia, dari sisi penampakan produk seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataannya adalah menyelesihi itu. Dan dari sisi mereka mengiming-imingi komisi besar yang seringnya tidak terwujud. Dan ini terhitung dari penipuan yang diharamkan. (Nabi) shallallaahu ’alaihi wa sallam telah bersabda,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Siapa yang menipu maka ia bukan dari saya.” (Shohih Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dan beliau juga bersabda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Dua orang yang bertransaksi jual beli berhak menentukan pilihannya selama belum berpisah. Jika keduanya saling jujur dan transparan, niscaya akan diberkati transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.” (Muttafaqun ’alaihi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah (jasa sebagai perantara), maka ini tidak benar. Karena samsarah adalah transaksi (dimana) pihak perantara mendapatkan imbalan atas usahanya mempertemukan barang (dengan pembelinya). Adapun pemasaran berjejaring (MLM) anggotanyalah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut. Sebagaimana maksud hakekat dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berjejaring (MLM), maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu orang yang bergabung (dalam MLM) memasarkan kepada orang yang akan memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya (Pengguna barang tersebut adalah anggota MLM, hal ini dikenal dengan istilah user 100%. Berbeda dengan samsarah, (dimana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), ini tidak benar (selengkapnya baca di Majalah An-Nashihah Volume 14 tahun 1429 H/2008 M)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sumber :&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Majalah An-Nashihah Volume 14 tahun 1429 H/2008 M&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Link sumber: http://isl4my.wordpress.com/2008/12/15/hukum-bisnis-dengan-sistim-mlm&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-8913084715297239000?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/8913084715297239000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/hukum-bisnis-dengan-sistim-mlm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8913084715297239000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8913084715297239000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2009/03/hukum-bisnis-dengan-sistim-mlm.html' title='HUKUM BISNIS DENGAN SISTIM MLM'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-5841932014792337900</id><published>2008-12-16T08:28:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T08:29:56.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Mendirikan Negara Islam?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para pemikir Islam mengatakan :&lt;br /&gt;“Kami terjun dalam pemilu dalam rangka mendirikan negara Islam.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalannya adalah bagaimana mungkin orang yang di awal langkahnva menginjak- nginjak Islam dapat menegakkan negara Islam dan menerapkan hukum syariat sementara dia sendiri adalah orang yang pertama kali mengalah dalam perkara syariat? Bukankah undang-undang pemilu adalah bagian dari UU sekuler yang diimpor dari Eropa?&lt;span id="more-299"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawabnya :&lt;br /&gt;Tentu sebagaimana telah lalu.&lt;br /&gt;Bila mereka benar-benar ingin menegakkan negara Islam sesuai dengan ucapan mereka, kenapa mereka tidak memulainya dengan menolak pemilihan umum? Dan mengatakan, kami tidak menerima pemilu karena ia adalah sistem thaghut. Kami tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membantah bencana ini. Bahkan dengan tunduknya mereka kepada UU (barat) dalam perkara pemilu berarti mereka telah siap untuk berkompromi setiap kali mereka hendak memperbaiki hukum- hukum demokrasi. Bagaimana mungkin mereka ridha diatur oleh hukum ala barat lalu mengatakan, kami akan menegakkan hukum Allah? Ini semua hanya slogan kosong belaka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan ini kami anggap sebagai sikap merendahkan diri dan memang mereka selalu mengalah. Sekedar contoh, mereka mengatakan :&lt;br /&gt;“Kami akan menegakkan negara Islam.”&lt;br /&gt;Dan mereka terus menggembar-gemborkan kalimat ini dalam beberapa masa kemudian kita tidak mendengar apapun melainkan mereka telah memiliki slogan baru yakni :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami tidaklah menginginkan kecuali perbaikan sesuai dengan kadar kemampuan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka mengalah dari rencana menegakkan negara sampai akhirnya menghendaki perbaikan menurut kadar kemampuan mereka. Padahal tidak diragukan lagi bahwa wajib bagi tiap kaum Muslimin untuk memperbaiki apa yang mereka mampu. Ayat ini adalah ucapan Nabiyullah Syuaib Alaihis Salam pada asalnya. Lantas mereka menjadikan agama dan ayat semata-mata hanya sebagai kumpulan slogan omong kosong.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Slogan terakhir yang mereka serukan merupakan bukti dari sekian banyak sikap mengalah mereka. Bisa diambil kesimpulan bahwa mereka telah gagal dalam memberikan gambaran yang lemah sekitar penegakkan daulah Islam. Dan mereka terus meniti tangga-tangga untuk mengalah. Kami sangat khawatir mereka akan menghilangkan yang masih tersisa pada mereka yakni Islam karena penyimpangan- penyimpangan dimulai sedikit demi sedikit hingga lepas semua. Maha Benar Allah yang telah berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An Nur : 21)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perhatikanlah akhir dari “orang yang menginginkan perbaikan menurut kemampuannya”, ia memerintahkan untuk menyelisihi syariat dengan dalih kemaslahatan. Dan dia mengalah dari satu kebenaran merupakan sebab diturunkannya azab Allah di dunia dan di akhirat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat(hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al Isra : 73-75)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau begitu, apa artinya mengalah dan manfaat apa yang bisa diambil bila sikap mengalah ini mendatangkan azab Allah yang buruk di dunia dan di akhirat?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;“Dan pastilah azab di akhirat lebih pedih dan lebih kekal.” (QS. Thaha : 127)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Juga firman Allah lainnya :&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya azab di akhirat lebih hina sedangkan mereka tidaklah ditolong.” (QS. Fushilat : 16)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang-orang kafir di sini tidak menuntut kepada Nabi kita agar meninggalkan agamanya karena mereka tahu bahwa Nabi tidak akan melakukan hal itu. Namun mereka menuntut Nabi agar mengalah (memberi konsesi) meski dalam sebagian kecil kebenaran. Rabb kita telah menganugerahkan kepada Nabi kita dengan anugerah kebaikan dan pemahaman yang lurus serta ketegaran dan perlindungan ketika menghadapi orang-orang musyrik. Ayat ini memberikan faidah bahwa menggaet tokoh pimpinan dan penguasa agar mereka menjadi pelopor terdepan dalam barisan dakwah dalam takaran dakwah kepada Allah tidaklah diperbolehkan karena mengalah dalam perkara agama ini walau dengan dalih untuk mewujudkan kemaslahatan dakwah tidaklah diperbolehkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati- hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al Maidah : 49-50)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Quran Al Karim telah memperingatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari sikap mengalah kepada siapapun dan kekuasaan manapun, baik di bawah kendali orang- orang yahudi maupun musyrik. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diminta untuk tidak keluar dan tidak goyah berhukum dengan hukum Allah Azza wa Jalla bahkan Allah mengancam Nabi-Nya dengan ancaman yang sangat keras dan siksa yang sangat menyakitkan apabila terjadi padanya kelancangan dalam menisbatkan hukum yang tidak difirmankan dan disyariatkan oleh-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al Haqqah : 44-46)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh rugi orang yang menyangka bahwa dia akan hidup dengan selamat sementara pada saat yang sama dia banyak mengalah dalam perkara-perkara yang berkait dengan Islam. Padahal dia menempati kedudukan sebagai da’i, ulama, dan figur yang diteladani. Dan mereka belum juga berhenti dan terus menerus mengalah dalam berbagai perkara keislaman. Kepada Allah-lah tempat mengadu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-mendirikan-negara-islam/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-5841932014792337900?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/5841932014792337900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mendirikan-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5841932014792337900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5841932014792337900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mendirikan-negara.html' title='Menggugat Demokrasi - Mendirikan Negara Islam?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-2122028261367220005</id><published>2008-12-16T07:11:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T07:13:52.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Kami Berniat Baik?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka hendak mengatakan bahwa :&lt;br /&gt;“Kami tidak berdosa karena niat dan tujuan kami yang baik. Keinginan kami tidak lain adalah menolong Islam.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak bisa menggapainya. Kebaikan tidak akan terwujud dengan semata-mata bermodalkan niat yang baik dan mengabaikan kebenaran.&lt;br /&gt;Sudah terang –laksana matahari di siang bolong– bahwa seluruh amalan tidak akan diterima di sisi Allah kecuali dengan dua syarat yakni :&lt;br /&gt;1. Ikhlas yakni seseorang beramal mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla dan&lt;br /&gt;2. Selaras dengan syariat Allah sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.&lt;span id="more-298"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila hilang salah satu dari dua syarat di atas tidaklah diterima amalan tersebut di sisi Allah. Kami menganggap bahwa kalian memang menginginkan kebaikan. Namun itu tidaklah cukup. Amalan shalih harus sesuai dengan syariat dalam bilangan, tata cara, sifat dan bentuk, mula dan akhir, dalam pokok dan cabang hukum, serta dalam tempat dan waktu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalil-dalil tentang hal itu adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru dalam urusan kami ini (agama Islam) maka ia tertolak.” (Muttafaq ‘alaihi dari Aisyah radliyallahu ‘anha)&lt;br /&gt;Dan dalam Shahih Muslim :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari agama kami maka itu tertolak.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lafazh man termasuk lafazh-lafazh yang umum. Perbuatan apapun yang mengada- ngada ini seluruhnya tertolak. Maka otomatis ibadahnya ahli bid’ah tertolak. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat pelaku bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya.” (Riwayat Thabrani, Baihaqi, dan Adh Dhiya dari Anas radliyallahu ‘anhu)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ahli ibadah ini memacu jiwanya dan bersemangat dalam beribadah kepada Rabb- nya. Namun Allah tidak menerima sedikitpun amalan yang ia lakukan kendati dia sangat mengharapkan pahala dari sisi Allah. Keikhlasannya dalam beramal tidak dibarengi dengan mengkaji sumber syariat amalan tersebut.&lt;br /&gt;Tiap kali dia sungguh-sungguh bertaubat, taubatnya senantiasa tertolak meski niatnya baik dan tujuannya agung. Hal ini tidak menyelamatkan pelakunya dari kesalahan-kesalahan sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Usamah bin Zaid, beliau mengatakan :&lt;br /&gt;[ Saya pernah mengejar seorang musyrikin bersama seorang Anshar ketika kami hampir membunuhnya dia mengatakan Laa Ilaha Illallah. Temanku mengurungkan niatnya dan saya memenggalnya hingga tewas. Lantas saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang hal itu, beliau menjawab :&lt;br /&gt;“Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaha Illallah?” Saya berkata : “Wahai Rasulullah, dia mengucapkan demikian hanya untuk berlindung diri.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam balik bertanya : “Apakah kamu telah membelah hatinya? Lantas apa yang akan kamu lakukan dengan kalimat Laa Ilaha Illallah apabila telah datang hari kiamat?”&lt;br /&gt;Usamah mengatakan, beliau terus mengulang-ngulangnya sampai saya berandai- andai bahwa saya belum masuk Islam kecuali pada hari ini. ]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lihatlah Usamah dan maksudnya yang baik untuk menolong Islam. Apakah dia bermaksud jahat? Tidak! Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencela perbuatannya dan tidak memaafkan dengan sebab tujuannya yang baik.&lt;br /&gt;Demikian pentingnya masalah ini hingga para ulama pun telah mengarang banyak kitab yang memperingatkan umat dari bahaya bid’ah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Lihatlah kitab Al I’tisham karya Asy Syatibi. Dengan sangat baiknya beliau berbicara tentang bahaya bid’ah, jenis-jenis dan cabangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seandainya orang-orang yang mengatakan, “niatku baik dan tujuanku baik” dapat dibenarkan tentu hal ini akan menyebabkan banyak orang melakukan pembunuhan lantas berlindung di balik alasan “niatku baik”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang yang mengkonsumsi minuman keras akan berkata “niatku baik”. Yang seperti ini banyak dan kerap terjadi karena menyangkut aktifitas hati. Kita tidak mampu untuk menetapkannya dan kita tidak bisa mengambil faidah kecuali dengan dalil yang menyertainya dari luar (hati).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah telah membimbing kita untuk mengambil lahiriah berbagai perkara dan Allah- lah yang menguasai urusan yang tersembunyi. Oleh karena inilah Umar berkata sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan lainnya :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya wahyu telah terhenti dan sesungguhnya kami menghukumi kalian dengan hal-hal yang tampak bagi kami dari perbuatan kalian. Barangsiapa yang nampak bagi kami kebaikannya maka kami berikan keamanan dan rahasianya bukanlah urusan kami sedikitpun. Allah yang akan menghisab rahasia-rahasia mereka. Barangsiapa yang nampak bagi kami kejahatannya, kami tidak akan memberikan jaminan keamanan dan tidak akan mempercayainya meski dia mengatakan :&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya hatiku berniat baik.’&lt;br /&gt;Sesungguhnya kami tidak bersedia untuk menerima orang yang mengaku hatinya baik. Kami memiliki dalil-dalil yang menunjukkan bahwa zhahir yang baik adalah bukti atas batin yang baik dan rusaknya zhahir merupakan bukti atas rusaknya batin. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad.’” (Muttafaq ‘alaihi dari Nu’man bin Basyir)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang yang sudah diketahui kebaikannya lalu terjadi padanya kekeliruan dalam perkataan maupun perbuatan maka mungkin kekeliruan tersebut dilakukan atas dasar tujuannya yang baik. Dan mestinya dia diingatkan dari perkara-perkara yang keliru. Adapun orang yang sudah diketahui sebagai orang yang menyimpang dari syariah dan tidak mau menerima kebenaran maka kekeliruannya tidak mungkin ditolerir. Yang saya pahami, sebagian tokoh pergerakan Islam telah mengetahui bahwa pemilu adalah haram. Namun mereka terus ikut serta apapun keadaannya. Dan kami berbaik sangka bahwa mayoritas mereka menginginkan hal itu dalam rangka menolong Islam. Akan tetapi “betapa banyak orang yang mencari kebenaran tidak bisa menggapainya”. Bila memang benar kita ingin menolong agama Islam maka sebaik-baik petunjuk adalah petuniuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Seperti kata Imam Malik :&lt;br /&gt;“Umat terakhir tidak akan bisa baik kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat pertama.”&lt;br /&gt;Wallahu musta’an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-kami-berniat-baik/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-2122028261367220005?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/2122028261367220005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-kami-berniat-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2122028261367220005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2122028261367220005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-kami-berniat-baik.html' title='Menggugat Demokrasi - Kami Berniat Baik?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-3777907447277207968</id><published>2008-12-16T07:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T07:10:02.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Pemilu dan Hizbiyyah Adalah Persoalan Artifisial Bukan Substansial?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka mengatakan, kami tidak mendapati dalam Al Quran dan As Sunnah seujung kuku nash yang menyinggung permasalahan pemilu ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami katakan, perkataan kalian bahwa perkara ini adalah perkara artifisial dan bukan substansial adalah kesalahan yang sangat fatal.&lt;span id="more-297"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Bagaimana mungkin ia merupakan perkara artifisial sementara terkandung di dalamnya penghamburan harta, pergumulan dengan musuh, masalah al wala’ wal bara dan pendekatan diri kepada Allah (politik adalah ibadah, ed.) sebagaimana yang kalian dakwakan. Juga kalian memandang diri kalian dengan pemilu tersebut sebagai para pembela kebenaran dan memandang wajib bagi kaum Muslimin untuk ikut bergabung bersama kalian di dalam hizbiyyah.&lt;br /&gt;Kalau ini semua adalah perkara artifisial lantas apa yang substantif menurut kalian?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Bagaimana mungkin semua ini merupakan masalah yang artifisial padahal zahir keadaan kalian, baik perkataan maupun perbuatan menunjukkan bahwa ia (hizbiyyah) adalah satu-satunya manhaj dan pilihan yang tepat untuk menegakkan agama Allah? Apakah kalian telah bersikap jujur pada diri kalian sendiri? Jika kalian mengatakan ya, lantas adakah artifisialitas pada masalah terpenting dalam agama yakni mengokohkan tauhid di muka bumi?&lt;br /&gt;Jika kalian mengatakan :&lt;br /&gt;“Tidak, kami tidak percaya ketika kalian mengatakan hal tersebut.”&lt;br /&gt;Maka cukuplah kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;Islam seluruhnya adalah substansi yaitu akidah lurus yang menancap di dalam hati, tauhid yang uniyersal, al wala’ wal bara’ dan sikap tunduk kepada kebenaran. Tidak ada masalah-masalah kulit seluruhnya adalah isi.&lt;br /&gt;3. Artifisialisme telah dicampakkan oleh Islam karena ia merupakan perbuatan orang munafik, menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang mereka sembunyikan, mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang mereka perbuat, dan berbuat yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 2)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Senjata kaum munafik adalah sikap yang tampak karena ini Allah Ta’ala berfirman tentang shalat mereka :&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’ : 142)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan semua kegiatan agama mereka seperti ini. Inilah artifisialisme yang telah dicampakkan oleh Islam. Semua ini membahayakan pelakunya dan dapat membuatnya terperosok ke jurang neraka yang paling bawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 145)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah mengajak hamba-Nya untuk bersikap jujur dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, mencintai-Nya dan takut dari azab-Nya, ridha terhadap hukum-Nya dan pasrah terhadap syariat-Nya, dan waspada terhadap perintah dan larangan- Nya, tawakkal dan percaya kepada-Nya dan mendengarkan perkataan-Nya. Ini semua adalah substansi dan Islam seluruhnya mendorong kepada hal ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Tampaknya kalian banyak bergelut dengan istilah-istilah. Kalian telah siap sedia untuk memenuhi dunia ini dengan istilah-istilah serta menyibukkan masyarakat dan para penuntut ilmu dengan segala istilah itu. Lalu kalian mempopulerkannya dan kalian menipu manusia sampai batas waktu tertentu. Hukum-hukum pun telah “dipersiapkan” agar sesuai dengan sistem dan hawa nafsu kalian. Kompromi adalah hal yang masyru’ (disyariatkan), kompromi antara yang haq dan yang batil selama dalam hal itu ada kemaslahatan yang terwujud bersama hizbiyyah dalam pandangan kalian. Demi Allah kami katakan ini bukan sebagai celaan namun sangat memprihatinkan bahwa ini adalah kenyataan. Hak Muslim terhadap Muslim lainnya adalah jujur dan jelas dalam memberi nasihat dan kami telah menyinggung permasalahan ini dalam berbagai majlis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami tidak melihat adanya jawaban bahkan kami melihat kalian terus menerus menyelisihi syariat dan bersungguh-sungguh dalam memojokkan Ahlus Sunnah. Maka menguatlah dorongan pada diri kami untuk mengajukan bantahan dan sanggahan ketika kalian menampakkan penyelisihan terhadap al haq.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Yang Maha Mengetahui segala yang berada di balik tujuan dan Dia-lah tempat meminta tolong dan perlindungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-pemilu-dan-hizbiyyah-adalah-persoalan-artifisial-bukan-substansial/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-3777907447277207968?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/3777907447277207968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3777907447277207968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3777907447277207968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-dan.html' title='Menggugat Demokrasi - Pemilu dan Hizbiyyah Adalah Persoalan Artifisial Bukan Substansial?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-7681390375443478151</id><published>2008-12-16T07:04:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T07:06:45.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Pemilu Termasuk Mashalih Al Mursalah?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami terjun ke dalam pemilu karena ia termasuk mashalih al mursalah, begitu kata mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka jawabannya :&lt;br /&gt;1. Mashalih al mursalah bukanlah salah satu pokok agama yang wajib diamalkan namun ia merupakan washilah (sarana perantara) yang bila telah terpenuhi syarat- syaratnya baru boleh diamalkan. Para ulama ushul menyebut mashalihul mursalah setelah pembahasan masalah qiyas dan saat membahas al istihsan.&lt;span id="more-296"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Definisi maslahat ialah perkara yang tidak ada nasnya secara langsung berupa pengharaman atau yang mewajibkan namun berada di bawah hukum pokok yang umum. Definisi lain yang disebutkan oleh para ulama ushul, maslahat adalah suatu keadaan yang tidak ada ketetapannya dari sisi syar’i.&lt;br /&gt;Para shahabat telah mengambil mashalih mursalah. Begitu pula tabi’in dan atba’ut tabi’in. Termasuk maslahat mursalah adalah mengumpulkan Al Quran hanya pada naskah yang dipilih oleh Utsman, mengarang kitab fiqih dan kitab-kitab bahasa Arab serta kitab ilmu hadits dan mencampakkan selainnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa mashlahat al mursalah tidak termasuk dalam hukum-hukum pokok namun ia termasuk perkara ijtihadiyah yang pendapat seseorang bisa salah dan bisa benar. Syariat secara keseluruhan datang dalam rangka merealisir kemaslahatan manusia, menghilangkan kesusahan dan kesempitan sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Miftah Darus Sa’adah (2/23).&lt;br /&gt;Dari pemaparan singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa syariat datang untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Atas dasar ini mashlahat al mursalah mempunyai syarat-syarat yang wajib dijaga apabila syarat-syaratnya terpenuhi maka boleh diambil. Maka, apakah kalian menjaga syarat-syarat tersebut? Dan akan kita bawakan syarat-syaratnya setelah menjelaskan syubhat kelima belas, Insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkata Imam Asy Syathibi dalam kitabnya Al Muwafaqat (4/ 210) :&lt;br /&gt;“Mengambil mashalih mursalah adalah benar dengan syarat mampu dan memaksakan.”&lt;br /&gt;Mashalih mursalah adalah perkara-perkara yang tidak ada ketetapannya di sisi syariat. Di antaranya perkara-perkara yang bersifat umum dan khusus. Adapun pembahasan kita (pemilu) maka mafsadat-mafsadatnya telah lalu kita sebutkan yang mana orang berakal tidak ragu lagi menggolongkannya ke dalam mafasid al muharramah (mafsadat-mafsadat yang haram) sebagai ganti dari mashalih mursalah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-pemilu-termasuk-mashalih-al-mursalah/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-7681390375443478151?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/7681390375443478151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-termasuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7681390375443478151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7681390375443478151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-termasuk.html' title='Menggugat Demokrasi - Pemilu Termasuk Mashalih Al Mursalah?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-7540242378276751267</id><published>2008-12-16T06:56:00.001+07:00</published><updated>2008-12-16T06:59:02.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Pemilu Adalah Perkara Ijtihadiyah?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka mengatakan bahwa pemilihan umum itu adalah perkara ijtihadiyah.&lt;br /&gt;Kami katakan kepada kalian, apa yang kalian maksud dengan perkataan pemilu adalah perkara ijtihadiyah? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika yang kalian maksud dengan perkara ijtihadiyah adalah perkara baru yang belum dikenal pada masa turunnya wahyu dan masa Khulafaur Rasyidun maka jawabannya ada dua sisi :&lt;span id="more-294"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, hal ini bertentangan dengan ucapan kalian yang lalu bahwa pemilu telah ada sejak awal mula kedatangan Islam. Tentu kalian ingat apa yang pernah kalian ucapkan dan tuliskan!&lt;br /&gt;Janganlah kecondongan kalian terhadap sebuah pemikiran mendorong kalian untuk menyatakan sesuatu di satu forum kemudian kalian gugurkan di forum yang lain! Janganlah ketidakmampuanmu memahami berbagai macam informasi yang kalian dengar memperdayamu jatuh ke dalam kontradiksi ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, bencana-bencana besar ini memang tidak ada pada zaman turunnya wahyu namun bukan berarti segala sesuatu yang tidak ada pada zaman turunnya wahyu perkaranya dikembalikan kepada ijtihad dan orang yang menyelisihi kebenaran tidak boleh diingkari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terhadap setiap kejadian dan perkara yang terbilang “baru” sikap para ulama ialah mengembalikannya kepada kaidah-kaidah agama yang pokok dan universal. Mereka mengetahui kondisi-kondisi yang serupa dan sepadan kemudian menghubungkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari sanalah mereka mengaitkan kedudukan perkara-perkara tersebut dengan hukum asalnya mubah, makruh, wajib, dan haram. Adapun tema yang sedang kita bahas ini sungguh telah berlalu penjelasan tentang kerusakan-kerusakannya.&lt;br /&gt;Jika kalian mengatakan pemilu adalah perkara ijtihadiyah dalam arti tidak ada nash syar’i dalam masalah tersebut maka keterangan yang lalu sudah cukup menjawab pertanyaan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika yang kalian maksud sebagai “masalah ijtihadiyah” adalah kalian katakan :&lt;br /&gt;“Kami mengetahui keharaman dan kerusakan-kerusakan pemilu namun kami berpendapat bahwa berkecimpung di dalamnya akan mewujudkan maslahat yang tidak mungkin terwujud kecuali dengan ikut serta dalam pesta demokrasi. Dan kalian wahai Salafiyyun memandang padanya ada mafsadat maka inilah yang dinamakan masalah ijtihadiyah yakni pemilu adalah sarana merealisasikan idealisme dan penerapan hukum-hukum syariah dalam kehidupan nyata. Ini adalah wacana yang di dalamnya terdapat perbedaan pandangan yang tidak seorang pun boleh diingkari.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya katakan, seandainya sekarang ini bukan lima puluh tahun yang lalu pastilah hal ini ada benarnya. Yakni awal mula dipaksakannya ideologi demokrasi ini terhadap negara-negara kaum Muslimin karena pandangan selalu berbeda pada perkara yang baru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah enam puluh tahun lamanya kaum Muslimin tertatih-tatih di belakang demokrasi dan mereka tidak mendapatkan apa-apa. Maka apakah ini semua bukan merupakan pelajaran bagi kita? Bukankah kita telah menjadikan kaum Muslimin sebagai kelinci percobaan selama lebih dari setengah abad? Cobalah kita telisik kembali pengalaman sejak enam puluh tahun yang lalu. Di manakah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Seorang Mukmin tidak terjerumus dalam satu lubang (yang sama) dua kali.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kalian berpendapat bahwa pemilu ini tergolong perkara ijtihadiyah (dalam arti belum disepakati oleh para ulama) maka jawabannya sudah maklum bahwa ia mengingkari ijma’ yang shahih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang tersisa kini tinggal memperinci masalab khilafiyah ini. Dalam hal ini salah satu kubu memiliki hujjah yang kuat dengan adanya pihak yang menyelisihi hujjah yang kuat tersebut. Namun bukan berarti tiap orang bebas memilih pendapat yang mana saja. Berapa banyak jumlah masalah yang disepakati (ijtima’iyah) bila dibandingkan dengan masalah yang dipertentangkan (ijtihadiyah). Kandungan kitab-kitab dipenuhi dengan bantahan-bantahan ulama terhadap ulama lainnya dalam masalah yang tidak pernah sunyi dari para penyelisih. Juga ada masalah khilafiyah yang dalil- dalilnya saling tarik-menarik tanpa ada pendapat yang jelas kuatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka pada saat seperti itu di saat tidak ada pengingkaran yang pasti terhadap perkataan ulama atau suatu masalah khilafiyah yang harus kita lakukan adalah :&lt;br /&gt;Pertama, meneliti dan mengkaji berbagai topik pembahasan yang di dalamnya ditemukan perkataan ini (yakni perkataan pemilu adalah masalah ijtihadiyah) dari para ulama. Apakah perkataan tersebut dapat menghantar kepada kerusakan- kerusakan yang telah lalu atau sebaliknya?&lt;br /&gt;Kedua, ucapan mereka :&lt;br /&gt;“Tidak ada pengingkaran yang pasti.”&lt;br /&gt;Bukan berarti tidak boleh mengingkari. Bahkan orang yang diam tidak ada dosa baginya. Orang yang mengingkari dengan syarat-syarat yang syar’i dan perbuatannya itu dapat menghantar pada maslahat yang syar’i maka itu boleh bahkan sunnah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya hendak bertanya, wahai orang-orang yang berpendapat bahwa pemilu adalah masalah ijtihadiyah dan bahwa orang yang menyelisihi (ijma’ ulama) dalam masalah ini tidak boleh diingkari! Kalian memaksakan pendapat ini kepada saudara-saudara kalian dari kalangan penuntut ilmu yang mengingkari perbuatan dan pendapat kalian. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah kalian menuduh mereka sebagai “saudara sepersusuan” orang-orang sosialis, kacung pemerintah serta tuduhan-tuduhan lainnya? Kalau saja kami boleh menyikapi zhahir perbuatan kalian dan bicara serampangan sebagaimana yang kalian lakukan pastilah akan kami katakan bahwa kedustaan ini lebih berhak ada pada kalian dan kalianlah pelakunya!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi kami tidak melakukan hal yang sama terhadap kalian semata-mata karena agama dan ketakutan kami kepada hari yang disebarkan catatan-catatan amal pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih berseri dan wajah-wajah yang lain menjadi hitam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya kepada Allah Azza wa Jalla tempat mengadu. Hasbunallah wani’mal wakiil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="entry"&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-pemilu-adalah-perkara-ijtihadiyah/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-7540242378276751267?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/7540242378276751267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7540242378276751267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7540242378276751267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-adalah.html' title='Menggugat Demokrasi - Pemilu Adalah Perkara Ijtihadiyah?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-9070412400554071041</id><published>2008-12-16T06:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:55:36.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Boleh Mengambil Sebagian Sistem Jahiliyah?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut perkataan mereka di bawah judul Sikap Kami Terhadap Sistem-Sistem Lain (dari kitab Syar’iyyatul Intikhabat halaman 19) :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[ Namun apakah diharamkan jika kami mengambil sebagian dari sistem jahiliyah sedangkan yang sebagian ini merupakan sesuatu yang benar?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka berkata, yang demikian ini diperbolehkan kendati tidak sampai tingkatan wajib mengambil sebagian perkara yang benar dan bermanfaat lagi disyariatkan dari sistem jahili tersebut. Dalil kami tentang hal ini ada dua :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, masalah memberikan perlindungan --yakni seseorang mengumumkan bahwa dia melindungi si fulan dan dengan pengumuman si fulan tersebut berada di bawah perlindungannya--. Sistem jahili ini diambil oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya, Rasulullah radliyallahu ‘anhu telah ridha dengan perlindungan paman beliau, Abu Thalib dan kisah masuknya beliau ke Makkah dengan perlindungan Muth’im bin Adi. ]&lt;span id="more-293"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya katakan, kisah ini tidak shahih. Ibnu Ishaq meriwayatkannya dalam riwayat yang mu’dhal (sanadnya terputus di dua tempat atau lebih). Semua yang menyebutkannya seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir berpegangan pada riwayat Ibnu Ishaq dan riwayat tersebut tidak shahih. Peneliti sejarah Nabi telah membantahnya meskipun kisah perlindungan Abu Bakar bersama Ibnu Daghnah shahih ada pada Bukhari dan selainnya. Yang lebih pantas bagi mereka –seandainya mereka perhatian dengan sanad yang bersih– untuk berdalil dengan yang shahih bukan dengan yang sanadnya telah jatuh. Ini adalah buah ucapan mereka :&lt;br /&gt;“Zaman ini bukan zaman hadatsana wa akhbarana (telah menceritakan kepada kami dan telah mengkhabarkan kepada kami) dan kami tidak mau sibuk dengan ucapan mereka, ini hadits shahih atau lemah. Sesungguhnya ini membuang-buang waktu belaka.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang saatnya kita mendiskusikan istidlal (pendalilan) ini dan pengakuan mereka bahwa ini adalah sistem jahili.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami katakan, istidlal di atas tertolak dari beberapa sisi :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, kisah ini kalaulah shahih sekalipun tidak terkait sama sekali dengan konteks permasalahan yang sedang kita bicarakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertanyaannya di sini, apa korelasi antara masalah pemilu dengan perlindungan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di sisi Muth’im bin Adi? Bukankah kita tinggal di negeri- negeri kita sendiri? Kita tidaklah terusir dan tergusur. Segala puji bagi Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dahulu terusir, berbeda dengan kita. Istidlal ini tidak pada tempatnya dan tidak ada kaitannya dengan materi yang sedang kita bahas. Alangkah banyaknya kerusakan dalam agama apabila seperti ini yang mereka lakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, kalaulah bisa diterima bahwa masalah perlindungan yang disebutkan di atas merupakan dalil bolehnya berpartisipasi dalam pemilu maka di sini ada satu persoalan lagi, pernahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengalah dalam perkara al haq? Yakni pada saat Muth’im bin Adi melindunginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atau pernahkah beliau melakukan satu dari sekian banyak kerusakan-kerusakan (pemilu) seperti di atas?&lt;br /&gt;Jawabnya :&lt;br /&gt;Tidak! Bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah mengalah dari kebenaran –ini pun kalau dianggap kisah tersebut benar– lantas apakah orang- orang yang masuk pemilu mengalah dari kebenaran? Jawabannya, ya! Mereka mengalah dari sekian banyak hukum yang telah Allah syariatkan dalam rangka memenuhi cita-cita dan ambisi mereka. Mereka pun melakukan kerusakan- kerusakan yang banyak sebagaimana yang telah lalu pembahasannya secara rinci.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga, mereka mengatakan sesungguhnya kita boleh mengambil sistem kafir selagi sistem tersebut mengandung kebenaran.&lt;br /&gt;Saya katakan, perhatikan kata “benar” di sini. Kebenaran macam apa yang kalian ambil dari sistem pemilu? Bukankah telah kami katakan sesungguhnya menerima sistem pemilu itu berarti menjerumuskan diri ke dalam banyak kerusakan di antaranya adalah berbuat syirik kepada Allah pada banyak keadaan.&lt;br /&gt;Apa standar bagi yang “benar” itu? Adakah di dalam sistem aturan kafir sesuatu yang “benar” yang tidak terdapat di dalam Islam? Khususnya yang berkaitan dengan cara-cara menegakkan hukum Allah di muka bumi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaliknya, justru pada sisi kitalah berbagai perkara menyangkut penjagaan hak- hak, perbaikan kondisi, menghilangkan keburukan, merealisasikan keadilan serta menebarkan agama Allah lebih banyak berkali lipat daripada yang dimiliki orang- orang kafir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. Al Maidah : 50)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabb kamu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (QS. Al Maidah : 68)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang- orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Jatsiyah : 18-19)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla menginformasikan bahwa mereka tidak memiliki apa-apa kecuali hawa nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apapun keadaannya, telah jelas bagi kita bahwa semua ini adalah kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta terhadap Islam tanpa ilmu, pemahaman, pendalaman dan sebabnya adalah mereka tidak mengembalikan permasalahan- permasalahan kepada para ulama yang terpercaya yang mampu memberikan solusi dari ketergelinciran. Saya sebutkan kepada mereka firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.” (QS. Al Haqqah : 44-47)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun dalil kedua yang kalian pergunakan yakni bolehnya mengambil sistem jahili secara parsial menurut anggapan mereka.&lt;br /&gt;Nash yang mendukung ucapan mereka adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Saya pernah hadir di rumah Abdullah bin Jad’an untuk bersekutu sebelum Allah memuliakanku dengan kenabian, hal ini lebih saya sukai daripada saya memiliki unta merah. Tokoh-tokoh Quraisy berkumpul dan bersekutu untuk menolong orang yang dianiaya di Mekkah. Andai saya diundang untuk hal seperti itu pasti saya akan mendatanginya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sisi pendalilannya bahwa mereka orang-orang yang berafiliasi pada sistem dan fanatisme jahiliyah berkumpul dengan tujuan yang terpuji yakni bahu-membahu untuk menolong orang yang teraniaya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membolehkannya dan memberkahinya. Demikian dikutip dari kitab Syar’iyyatul Intikhabat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya berkata, adapun hadits tentang hadirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada persekutuan orang-orang Quraisy telah diriwayatkan dari Imam Ahmad, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dan Hakim dishahihkan oleh Adz Dzahabi juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.&lt;br /&gt;Syaikh Al Albani telah membawakan dua syahid untuk hadits tersebut. Lihat Kitab Silsilah Ahadits Shahihah (4/524). Dan hadits ini mempunyai syahid-syahid yang lain pada riwayat Thabrani dan lainnya. Kesimpulannya, hadits tersebut shahih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghadiri persekutuan ini dan mendukungnya namun sistem jahili apakah yang diadopsi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam?&lt;br /&gt;Jawabannya, tidaklah terjadi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengambil sesuatu dari persekutuan ini satu sistem pun dan satu permasalahan pun. Bagaimana mungkin boleh bagi mereka mengambil sistem demokrasi sebagian maupun seluruhnya sedangkan Nabi tidak pernah mengambil sedikitpun sistem kafir yang telah diharamkan oleh Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya ringkaskan, jawaban terhadap istidlal mereka bahwa Nabi menyetujui sebagian persekutuan yang terjadi pada jaman jahiliyah adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Para ulama telah berselisih dalam perkara hukum persekutuan ini. Di antara mereka ada yang mengatakan perkara ini telah dihapus oleh Islam dan Allah telah menggantinya dengan persaudaraan atas dasar agama. Dan juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Tidak ada persekutuan dalam Islam.” (Riwayat Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara mereka ada yang berpendapat tidak terhapus dalam kaitan menolong orang yang teraniaya. Berdasarkan pendapat yang mengatakan tentang dihapusnya persekutuan tersebut maka kalian tidak mempunyai dalil dalam penetapan sebagian persekutuan-persekutuan jahiliyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa persekutuan itu tetap (tidak dihapus) maka kami tanyakan pada orang tersebut, apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan suatu kerusakan dalam persetujuan beliau terhadap persekutuan-persekutuan ini? Apakah beliau juga pernah mengalah dalam dakwahnya dengan sebab-sebab persekutuan ini? Jika kalian mengatakan iya maka jelaskan kepada kami. Dan jika kalian mengatakan tidak maka itu yang betul. Lantas mengapa kalian berdalil dengannya untuk menunjukkan kebenaran sistem pemilu yang telah kami terangkan begitu banyak kerusakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kami bertanya kepada kalian apakah tatkala kalian katakan mengambil perkara parsial yang bermanfaat dan benar dan disyariatkan dari sistem jahiliyah adalah tidak mengapa?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah kalian mencukupkan dengan perkara parsial yang bermanfaat menurut anggapan kalian ini? Atau kalian malah mengambil sistem demokrasi (seluruhnya)? Dan kalian ridha mengingkari kemungkaran menurut tata cara demokrasi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beritahu aku bagian-bagian demokrasi lainnya yang kalian tidak mau tunduk dan patuh kepadanya hingga kami bisa mengatakan bahwa kalian telah mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan telah berlepas diri dengan lisan dan perbuatan! Jika kalian mengatakan, kami mengingkari penentuan rakyat sebagai hakim. Saya katakan ini ucapan teoritis belaka! Bukankah secara praktik kalian menerima pendapat mayoritas anggota di majlis perwakilan? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghadiri persekutuan yang bermanfaat dan menetapkannya namun tetap berlepas diri (bara’) dari setiap perkara yang menyelisihi Islam, tidak mempraktikkannya, dan bahkan memboikot pelakunya, tempat-tempat dan sarana-sarana yang menghantarkannya. Alangkah jauhnya pemahaman orang generasi belakangan. Semoga Allah merahmati Salaf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-boleh-mengambil-sebagian-sistem-jahiliyah/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-9070412400554071041?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/9070412400554071041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-boleh-mengambil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/9070412400554071041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/9070412400554071041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-boleh-mengambil.html' title='Menggugat Demokrasi - Boleh Mengambil Sebagian Sistem Jahiliyah?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-4392153166978037005</id><published>2008-12-16T06:50:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:52:06.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Pemilu Sudah Ada di Awal Sejarah Islam?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka mengatakan, dulu Abu Bakar dipilih dan dibaiat. Mereka juga menyebutkan pemilihan Umar dan Utsman. Lihatlah kitab Syar’iyyatul Intikhabat halaman 15.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawabannya :&lt;br /&gt;Yang kamu katakan ini tidak benar dengan berbagai alasan.&lt;br /&gt;Sudah merupakan hal yang jelas bagi seluruh kaum Muslimin bahwa pemilu dibangun di atas banyak kerusakan dan hal itu telah kami sebutkan pada kesempatan yang lalu. Maka mustahil para shahabat telah melakukan salah satu dari penyimpangan-penyimpangan tersebut apalagi kita katakan seluruhnya.&lt;span id="more-292"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para shahabat berkumpul dan bermusyawarah tentang siapa yang pantas menjadi khalifah kaum Muslimin. Setelah terjadi persilangan pendapat mereka pun bersepakat untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah tanpa ada seorang perempuan pun yang ikut serta. Maka apa dalil kalian setelah ini?!&lt;br /&gt;Abu Bakar mewasiatkan agar khalifah setelahnya adalah Umar. Kemudian para shahabat pun menunaikan wasiat beliau. Adapun Umar beliau menyerahkan perkara ini kepada dewan syura yang terdiri dari enam orang yang tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat beliau ridha terhadap mereka dan masih termasuk 12 orang yang diberi khabar gembira akan masuk Surga. Ini perkara yang benar dan shahih. Adapun tentang musyawarahnya Abdurrahman bin Auf dengan para wanita maka kalian hendaknya menyimak penjelasan perkara tersebut. Kisah ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari sebagaimana termuat dalam Fathul Bari 7/61. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau tidak menyebut tentang musyawarahnya Abdurrahman bin Auf dengan wanita. Bahkan yang benar Abdurrahman bin Auf mengumpulkan enam orang yang dibebani urusan tersebut oleh Umar yaitu Utsman, Ali, Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah ini menyebutkan bahwa enam orang yang ada adalah Ahlu Syura bukan selain mereka. Kisah ini benar dan shahih sebagaimana disebutkan di sini juga disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 7/69 dan Adz Dzahabi dalam Tarikh Islam halaman 303 dan Ibnul Atsir dalam At Tarikh jilid 3/36 dan Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tarikhul Umam wal Muluk 4/231. Dan tidak satu pun dari mereka yang menyebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf bermusyawarah dengan kaum wanita. Abdurrahman bin Auf hanya bermusyawarah dengan kaum lelaki. Sebagaimana dikatakan Al Hafizh bahwa beliau pada malam tersebut berkeliling kepada para shahabat (laki-laki) dan tokoh-tokoh yang masih ada di Madinah dan semua mereka condong kepada Utsman. Begitu pula yang disebutkan oleh ulama-ulama di atas.&lt;br /&gt;Ya, Ibnu Katsir telah menyebutkan dalam Al Bidayah wan Nihayah tentang musyawarahnya Abdurrahman dengan para wanita namun kisah ini semuanya tanpa sanad.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atas dasar penelitian ini dapat kami simpulkan :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Kebenaran kisah ini terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari bahwa Abdurrahman berijtihad pada enam orang saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Beliau juga bermusyawarah dengan para tokoh dan para panglima tentara. Sanad kisah ini ada pada Imam Thabari dan mempunyai jalan-jalan yang saling menguatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Kisah musyawarah Abdurrahman bin Auf dengan para wanita tidak mempunyai sanad. Dengan kata lain, kisah tersebut tidak ada asalnya (La ashla lahu). Yakni tidak kita dapati sanadnya yang shahih dalam kitab-kitab Sunnah sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan lainnya. Dalil yang menunjukkan bahwa penyebutan musyawarahnya Abdurrahman bin Auf dengan para wanita tidak ada sanadnya adalah bahwa para pakar sejarah — sebagaimana telah kami sebutkan– tidak menyebutkannya sama sekali hingga yang tanpa sanad sekalipun kecuali Ibnu Katsir rahimahullah. Ini kritik terhadap kisah tersebut dari sisi sanad. Adapun dari sisi matan ia bertentangan dengan nas-nas yang syar’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemilihan pemimpin pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui caranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat dalam bermusyawarah sebagaimana terjadi pada Abu Bakar dan Umar dalam perkara Al Aqra’ bin Habis dan Uyainah dan kisah tersebut terdapat dalam Shahih Bukhari dan lainnya. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat bangkitlah para shahabat untuk memilih khalifah tanpa ada seorang pun dari mereka yang meminta partisipasi orang perempuan dalam memilih khalifah. Begitu pula Abu Bakar telah menjadikan urusan (kekhilafahan) setelahnya pada Umar. Dan umar menjadikan perkara ini pada enam orang yang disebutkan di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau memang dianggap ada sanadnya dan kalaulah memang itu shahih maka itu merupakan penyelisihan terhadap perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat dari sisi Abdurrahman bin Auf radliyallahu ‘anhu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Intinya, Abdurrahman bin Auf telah dizalimi tatkala dinisbatkan kepadanya bahwa beliau menentang dan menyelisihi nash-nash yang gamblang. Akan tetapi beliau berlepas diri dari hal itu sebagaimana serigala berlepas diri dari darah Nabi Yusuf Alaihis Salam. Karena dasar inilah tidak boleh menyandarkan kisah tersebut kepada Abdurrahman bin Auf radliyallahu ‘anhu, sesungguhnya kisah tersebut adalah dusta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kalaulah kita anggap bahwa Abdurrahman bin Auf bermusyawarah bersama para wanita dan anak-anak, persoalan berikutnya adalah apakah beliau bermusyawarah bersama perempuan-perempuan lacur dan para pelaku kemaksiatan? Ataukah beliau bermusyawarah dengan orang-orang shalih yang memiliki ilmu dan makrifat?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kalian menjawab dengan yang pertama berarti kalian telah jatuh. Dan jika kalian menjawab dengan yang kedua berarti gugurlah hujjah kalian. Karena pokok permasalahannya terletak pada mempersamakan pendapat para pelaku maksiat dengan pendapat Ahli Ilmu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu hal yang umum diketahui bahwa ekspansi kekuasaan Daulah Islam pada zaman Umar telah menjangkau wilayah-wilayah yang teramat luas. Kami hendak bertanya, apakah Abdurrahman mengangkat seorang pejabat sementara kemudian membagi Daulah Islam itu menjadi distrik-distrik pemilihan, mengumpulkan suara kaum Muslimin seluruhnya dan mengambil suara terbanyak? Ataukah beliau hanya mencukupkan diri dengan penduduk Madinah, negeri turunnya wahyu yang di dalamnya terdapat Ahlul Halli wal Aqdi? Wallahul Musta’an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-pemilu-sudah-ada-di-awal-sejarah-islam/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-4392153166978037005?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/4392153166978037005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-sudah-ada-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/4392153166978037005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/4392153166978037005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pemilu-sudah-ada-di.html' title='Menggugat Demokrasi - Pemilu Sudah Ada di Awal Sejarah Islam?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-5805269735912668318</id><published>2008-12-16T06:48:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:50:16.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Sistem Demokrasi Selaras Dengan Islam?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang yang menyelisihi kami tidak menjawab dengan mantap ketika mereka ditanya : “Mengapa kalian menerima demokrasi?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kadang mereka menjawab :&lt;br /&gt;“Demokrasi di negeri kami sama artinya dengan ‘syura’. Di dalam Al Quran sendiri ada surat yang bernama Asy Syura dan Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;“Bermusyawarahlah mereka dalam urusan itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Allah juga berfirman :&lt;br /&gt;“Dan perkara mereka dengan musyawarah di antara mereka.”&lt;span id="more-291"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kadang mereka mengatakan demokrasi itu ada dua macam, pertama demokrasi yang menyelisihi syariat dan kami mengingkarinya. Sebab demokrasi semacam ini merupakan bentuk pelimpahan kekuasaan hukum kepada rakyat bukan kepada Allah. Yang kedua demokrasi yang sesuai dengan syariat yaitu hak umat untuk memilih pemimpinnya, mengawasi mereka, mengangkat mereka dan memecat mereka. Yang kedua ini kami beriman padanya dan kami berupaya untuk mengabdi Islam dari sisi ini. ]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kali lain mereka mengatakan : “Kami semua dalam kondisi terpaksa!”&lt;br /&gt;Atau mereka mengatakan demokrasi diambil dengan mengikut kaidah (mengambil) bahaya yang paling ringan.&lt;br /&gt;Yang tergambarkan dalam berbagai contoh-contoh logis –walaupun dipaksakan– yaitu sampaikanlah dan jangan pernah merasa ragu. Saya hanya ingin menyingkap tabir dari jawaban berikut ini berupa hal-hal yang serba menakjubkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun jawaban yang pertama dan dua jawaban yang lainnya telah berlalu penjelasannya. Sedangkan ucapan mereka bahwa demokrasi selaras dengan Islam dari satu segi atau selaras dengan Islam secara global mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengangkat penggantinya sementara Abu Bakar mengangkat penggantinya yakni Umar. Dan Umar mengangkat penggantinya yang terdiri dari enam orang dan sepakat untuk memilih salah satu dari enam orang tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya katakan, kalaulah kita terima bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah mengeluarkan isyarat tentang kekhilafahan Abu Bakar setelahnya tentu orang yang paham akan mengerti dan orang yang bodoh tetap akan bodoh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Allah dan orang-orang yang beriman menolak semua calon pengganti Nabi kecuali Abu Bakar.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan beliau juga bersabda :&lt;br /&gt;“Berikan kepadaku suatu kitab untuk saya tulis kepada kalian. Kalian tidak akan sesat setelahku dan agar tidak mengangan-angankannya dan seterusnya … .”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalaulah benar bahwa Rasulullah tidak mengangkat pengantinya, manakah pendalilan atas celah perselisihan dari apa yang telah kalian sebutkan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami bertanya, apakah umat memiliki hak untuk memilih penguasanya dengan cara apa saja meski menyelisihi Al Quran, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan Sunnah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kalian mengatakan iya maka jelaslah siapa sesungguhnya kalian dan manusia akhirnya mengetahui pemikiran kalian yang rusak. Maka dalil-dalil ini terarah kepada kalian maka runtuhlah kebatilan ini dan kokohlah pancang-pancang kebenaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kalian mengatakan tidak maka umat tidak memiliki hak untuk memilih penguasanya kecuali dengan cara yang syar’i dan benar atau minimal dengan cara yang tidak ada larangannya dalam syariat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami katakan, dari sini usailah perselisihan dengan disebutkannya dalil-dalil yang begitu banyak yang menunjukkan kebatilan sebagian perkara ini. Sesungguhnya sebagian perkara tersebut merupakan cabang dari pohon yang busuk. Bahkan pemilu merupakan akar dari demokrasi dan merupakan tangga yang dipakai untuk memperbudak manusia sebagian atas sebagian yang lain dengan cara mengikuti apa yang dihalalkan oleh para anggota dewan dan meninggalkan yang diharamkan oleh mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah telah mencela orang yang menjadikan ulama dan ahli ibadah sebagai pembuat hukum selain Allah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Mereka telah menjadikan pendeta dan pastur mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu bagaimana para pencari kayu bakar pada malam hari (Maksudnya, orang mencari sesuatu namun dia tidak mempunyai pengetahuan tentang yang dicarinya (asal ambil). (Pent.)) membuat hukum dari selain Allah? Maha suci Allah, ini adalah kedustaan yang besar! Adapun kalau dikatakan “terpaksa” sudah dimaklumi hal ini ada syarat-syaratnya maka terpenuhikah syarat-syarat tersebut pada kalian? Begitu pula tentang kaidah “mengambil mudharat yang terkecil” apakah telah kalian jaga batasan-batasan yang telah dijelaskan Ahlul Ilmi dan semuanya ini akan datang jawabannya dengan rinci pada tempatnya, Insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun terhadap contoh-contoh yang logis maka jawabannya ialah bahwa akal yang sehat tidak akan menyelisihi penukilan (dalil) yang shahih seperti yang telah dijabarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang tidak tertandingi, Dar’u Ta’arudh Al Aql wan Naql dan seandainya dengan akal dikatakan cukup tentulah Allah Azza wa Jalla tidak mengutus Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-sistem-demokrasi-selaras-dengan-islam/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-5805269735912668318?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/5805269735912668318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-sistem-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5805269735912668318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5805269735912668318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-sistem-demokrasi.html' title='Menggugat Demokrasi - Sistem Demokrasi Selaras Dengan Islam?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-2017448409284082544</id><published>2008-12-16T06:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:48:22.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Membantah Syubhat</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, dan memohon ampunan dari-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami juga dari kejelekan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya tak ada yang dapat memberinya petunjuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya bersaksi bahwasanya tidak ada zat yang berhak diibadati selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.&lt;span id="more-290"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena syubhat-syubhat yang digembar-gemborkan para pendukung pemilu banyak terlebih lagi kerusakan yang ditimbulkan olehnya tidak lebih sedikit dari kerusakan pemilu itu sendiri sehingga syubhat-syubhat yang menjadikan seorang Muslim dalam keadaan bingung dan ragu dalam menyikapi kebenaran dan menerimanya. Dan terkadang syubhat-syubhat ini membuat seorang Muslim lemah dan tidak berdaya. Dengan syubhat-syubhat ini menyeret seorang Muslim sehingga bisa menyimpang dari kebenaran lalu condong kepada kebatilan. Karena inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memperingatkan umatnya agar tidak mendekat kepada orang- orang yang membawa syubhat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim meriwayatkan dari Imran bin Hushain radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda :&lt;br /&gt;“Barangsiapa mendengar Dajjal maka waspadalah, demi Allah sesungguhnya seseorang pasti akan didatanginya dan dia menyangka bahwa dia (Dajjal) Mukmin lalu mengikutinya dengan sebab bangkitnya yang membawa syubhat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Betapa banyak kaum Muslimin yang pada mereka ada kebaikan namun mereka menceburkan diri ke tempat-tempat yang banyak mengandung syubhat. Karena itulah mereka kerapkali goyah dan terguncang. Syubhat yang banyak menyelimuti para penuntut ilmu dan da’i ke jalan Allah itu sangat samar dan tersembunyi terlebih-lebih pada awal munculnya. Karena itu haruslah disebutkan syubhat- syubhat yang ada pada perkara pemilu ini kemudian disebutkan bantahannya secara singkat, Insya Allah Azza wa Jalla. Mengetahui syubhat sangatlah membantu seorang Muslim untuk menjauhi kebatilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak diragukan lagi bahwa keselamatan bagimu, wahai saudaraku Muslim akan terwujud dengan menjauhi syubhat sebagaimana yang dibimbingkan oleh para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Bahkan perbuatan ini merupakan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jika kamu tidak menjauhinya maka sangat dikhawatirkan kamu akan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ini bila kamu bukan orang yang memenuhi syarat untuk membantah syubhat dan menjelaskan kebenaran dengan dalil-dalil syar’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak betul bahwa setiap orang yang memiliki ilmu syar’i pasti memiliki kemampuan untuk membantah syubhat-syubhat. Bahkan ia harus menyadari terlebih dahulu bahwa ilmu yang ia miliki tidak cukup untuk melancarkan bantahan hingga digabungkan padanya pengetahuan yang mendalam tentang manhaj Salaf dan pengetahuan tentang bagaimana interaksi mereka bersama para ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang.&lt;br /&gt;Demikian pula seharusnya para da’i memohon ketegaran pada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :&lt;br /&gt;“Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal ini ada hantahan terhadap syubhat-syubhat tersebut yakni mengembalikan syubhat-syubhat tersebut kepada kaidah yang benar dan jelas. Umpamanya ada sekelompok dokter menyatakan sesuatu itu bermanfaat namun sebagian mereka mengatakan bahwa itu adalah racun yang mematikan. Yang lain lagi mengatakan bahwa benda itu berbahaya tapi tidak beracun. Sebagian lain lagi mengatakan mengandung manfaat namun ada madharatnya. Bukankah logika menuntut untuk meninggalkan sesuatu yang diperselisihkan ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu pula syubhat dalam pemilu. Para ulama yang mengikuti Manhaj Salafus Shalih telah sepakat bahwa sistem pemilihan umum itu berasal dari musuh-musuh Islam dan tidak terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak pula datang dari para pendahulu umat ini. Kesepakatan ini bulat tanpa ada khilaf dalam wajibnya mengambil kesepakatan ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian mereka berselisih, sebagian mereka ada yang mengatakan di dalamnya tidak ada kebaikan dan justru ada padanya keburukan-keburukan sebagaimana yang berlalu penjelasannya. Lalu mereka pun meninggalkannya secara total.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara mereka ada yang berpendapat pemilu mengandung kebaikan dan kejahatan namun kejahatannya lebih besar daripada kebaikannya. Maka meninggalkannya secara total lebih utama. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa pemilu mengandung keburukan dan kebaikan namun kebaikannya lebih banyak dari kejahatannya. Tidakkah masuk di akal bahwa meninggalkan pemilu dan menolaknya itu lebih selamat dan lebih melanggengkan Islam? Hanya saja hawa nafsu telah memisahkan kebenaran dari umumnya manusia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah : 24)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini :&lt;br /&gt;“Dengan kesabaran kamu bisa meninggalkan syahwat dan dengan keyakinan kamu bisa meninggalkan syubhat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-membantah-syubhat/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-2017448409284082544?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/2017448409284082544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-membantah-syubhat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2017448409284082544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/2017448409284082544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-membantah-syubhat.html' title='Menggugat Demokrasi - Membantah Syubhat'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-8310255811570075679</id><published>2008-12-16T06:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:45:42.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Apakah Demokrasi dan Pemilu Sama Dengan Musyawarah Dalam Islam?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana hukum perkataan : “Demokrasi dan pemilu adalah sama dengan syura Islami ?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawabnya :&lt;br /&gt;Demi Allah, seandainya kami tidak mengkhawatirkan orang yang bodoh terpengaruh dengan kata-kata seperti ini niscaya kami tidak akan membantahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum menjelaskan kesembronoan penyamaan ini, akan saya sebutkan untuk mereka dua hadits yang agung. Yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;Barangsiapa mengatakan : “Aku berlepas diri dari Islam.” Apabila dia berdusta maka dia sebagaimana apa yang dia katakan. Apabila dia sungguh-sungguh maka dia tidak akan kembali kepada Islam dengan selamat. (Riwayat An Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim dari Buraidah)&lt;span id="more-288"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang jelas menjadikan dia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh jaraknya daripada antara timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih dan Abu Hurairah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam kedua hadits ini terdapat nasihat bagi orang yang berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, petunjuk dan landasan kitab yang terang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang jelas, demokrasi dan pemilu tidak bertemu dengan musyawarah yang disyariatkan Allah. Tidak pada pokoknya, tidak pula pada cabangnya. Tidak pada keseluruhannya, tidak pula pada sebagiannya. Tidak pada maknanya, tidak pula pada bentuknya. Dalilnya adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama,&lt;br /&gt;Siapakah yang mensyariatkan “demokrasi” ? Jawab, orang-orang kafir.&lt;br /&gt;Siapakah yang mensyariatkan musyawarah? Jawab, Allah.&lt;br /&gt;Apakah boleh bagi makhluk untuk membuat syariat? Jawab, tidak boleh.&lt;br /&gt;Apakah bisa diterima syariat yang dibuatnya? Jawab, tidak bisa.&lt;br /&gt;Yang mensyariatkan demokrasi adalah makhluk dan yang mensyariatkan musyawarah adalah Allah. Rabb dan Pemilik musyawarah adalah Allah sementara Rabb dan pemilik demokrasi adalah orang-orang kafir dan pengikut hawa nafsu. Apakah kita mempunyai Rabb selain Allah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah?” (QS. Al An’am : 114)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah : “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerahkan diri (kepada Allah) dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am : 14)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla juga berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.” (QS. Al An’am : 164)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka ayat di atas adalah garis demarkasi yang nyata antara demokrasi dan pemilu di satu sisi dengan musyawarah Islami di sisi yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua,&lt;br /&gt;Musyawarah kubra dilakukan berkaitan dengan pengaturan umat. Para pelakunya adalah ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan ulama, orang-orang yang shalih dan ikhlas. Adapun demokrasi, para pelakunya adalah individu-individu yang suka berbuat kufur, jahat, dan orang-orang pandir dari kalangan lelaki maupun perempuan. Dan apabila bersama mereka terdapat Muslimin atau ulama, hal ini tidak lain hanyalah mempermainkan kaum Muslimin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bolehkah disamakan seorang Muslim yang beriman dan shalih yang telah dipilih Allah dengan penjahat yang telah dijauhkan dan dihinakan oleh Allah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang- orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al Qalam : 25-26)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al Jatsiyah : 21)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang- orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad : 28)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga,&lt;br /&gt;Ahli musyawarah tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Tidak menganggap benar sesuatu yang batil dan tidak menganggap batil sesuatu yang benar. Berbeda dengan para penganut demokrasi. Mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menganggap batil sesuatu yang hak dan membela kebatilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ahli musyawarah akan memusyawarahkan segala sesuatu yang masih samar dari perkara-perkara yang hak dan berupaya merealisasikannya. Mereka sekedar mengikut dan mencontoh, tidak mendatangkan hukum-hukum yang menyelisihi hukum Allah. Adapun pengikut demokrasi, mereka suka membikin perkara-perkara baru, mengerjakan kebatilan, serta suka membuat peraturan dari selain Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama.” (QS. Asy Syura : 21)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla juga berfirman :&lt;br /&gt;Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah Rabb selain daripada Allah.” Maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. Al Anbiya : 29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain-Nya dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi : 26)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keempat,&lt;br /&gt;Musyawarah tidak dilakukan kecuali pada perkara-perkara yang langka. Adapun pada apa yang telah diputuskan Allah dan Rasul-Nya serta telah jelas hukumnya maka tidak ada musyawarah dalam masalah tersebut. Sedangkan demokrasi senantiasa bertentangan dengan hukum-hukum Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah : 50)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 44)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim.” (QS. Al Maidah : 45)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah : 47)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelima,&lt;br /&gt;Musyawarah tidak fardhu dan tidak wajib pada setiap saat. Akan tetapi hukumnya berbeda-beda sesuai dengan waktu dan keadaan. Kadang wajib kadang tidak wajib. Karena inilah maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan musyawarah untuk bergerak pada sebagian peperangan dan tidak melakukannya pada waktu yang lain. Hal tersebut berbeda menurut perbedaan keadaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan demokrasi adalah satu kemestian bagi para pengikutnya. Tidak diperkenankan bagi seorang pun untuk keluar daripadanya. Para penguasa dan pejabat harus selalu melaksanakannya dan menerapkannya pada rakyat mereka. Padahal barangsiapa mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah berarti dia telah memperbudak manusia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Kahfi : 102)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keenam,&lt;br /&gt;Demokrasi menolak syariat Islam, menganggapnya lemah dan tidak baik padahal syura menetapkan kekuatan Islam dan kelayakannya pada setiap zaman dan tempat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketujuh,&lt;br /&gt;Musyawarah ada bersamaan dengan kedatangan Islam. Adapun demokrasi tidaklah datang ke negeri kaum Muslimin kecuali pada dua abad terakhir ini –abad tiga belas dan empat belas hijriyah–. Apakah dengan demikian dapat dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah seorang yang berdemokrasi? Demikian pula para shahabat dan kaum Muslimin pada umumnya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedelapan,&lt;br /&gt;Demokrasi berarti “kekuasaan rakyat dari rakyat untuk rakyat”. Adapun syura berangkat dari musyawarah, di dalamnya tidak ada unsur pembuat hukum yang tidak ada asalnya dalam syariat. Yang ada hanyalah tolong menolong dalam memahami al haq, mengembalikan hal-hal yang masih tercecer kepada yang sudah terkumpul dan mengembalikan perkara-perkara yang baru kepada perkara-perkara yang sudah dikenal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber URL: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-apakah-demokrasi-dan-pemilu-sama-dengan-musyawarah-dalam-islam/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-8310255811570075679?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/8310255811570075679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-apakah-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8310255811570075679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8310255811570075679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-apakah-demokrasi.html' title='Menggugat Demokrasi - Apakah Demokrasi dan Pemilu Sama Dengan Musyawarah Dalam Islam?'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-3581617326086155098</id><published>2008-12-16T06:38:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:42:20.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Mendekatkan Ajaran Islam Dengan Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan lainnya adalah mungkinkah mendekatkan ajaran Islam dan demokrasi?&lt;br /&gt;Jawabnya : Tidak! Sebabnya adalah beberapa hal berikut :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Bahwa yang berhak membikin syariat (peraturan) dalam Islam hanyalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi : 26)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya hukum hanya milik Allah saja.” (QS. Yusuf : 40)&lt;span id="more-286"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raf : 54)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan al amru adalah al hukmu.&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Bahkan milik Allah-lah al amru seluruhnya.” (QS. Ar Ra’d : 31)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat syariat atas dasar perintah Allah bukan karena kemauan beliau sendiri.&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al Haqqah : 44-46)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah memberitakan tentang perihal beliau dalam surat Al An’am (ayat ke-60) dan Al Ahqaf (ayat ke-9) :&lt;br /&gt;“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman kepada beliau :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Aku hanya memperingatkan kalian dengan wahyu.” (QS. Al Anbiya : 45)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman membersihkan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat yang mempunyai akal yang cerdas.” (QS. An Najm : 3-6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman kepada Nabi-Nya :&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl : 44)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.” (QS. An Nisa’ : 59)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Dia Azza wa Jalla menjadikan taat kepada Rasul-Nya sebagai bentuk taat kepada-Nya. Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menaati Rasul sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’ : 80)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahkan Allah menjadikan seorang Muslim tidak mendapatkan petunjuk sampai dia taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dia berfirman :&lt;br /&gt;“Jika kalian taat kepadanya maka kalian akan mendapatkan petunjuk.” (QS. An Nur : 54)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Allah menjelaskan bahwa kerugian yang paling besar yang menimpa seorang hamba pada hari kiamat adalah ketidaktaatannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku.” (QS. Al Furqan : 27-29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun di dalam demokrasi yang membikin peraturan adalah makhluk yang bodoh - -setinggi apapun tingkatan ilmunya–. Karena seandainya dia mengetahui sesuatu tentu masih banyak hal lain yang tidak dia ketahui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Tidak boleh mengadakan pendekatan antara Islam dan demokrasi walau pada sebagian unsurnya saja. Sebab Islam adalah ajaran yang universal dan sempurna bagi segala problem kehidupan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila keimanan kita tidak sempurna kecuali dengan menjadikan Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai hakim maka hal ini menunjukkan bahwa setiap Muslim dituntut untuk menerima kebenaran pada setiap permasalahan.&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla telah berfirman :&lt;br /&gt;“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An Nisa’ : 59)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Azza wa Jalla mencakup segala masalah yang terjadi perselisihan di dalamnya. Karena kata tersebut adalah nakirah dalam konteks kalimat syarat. Dan firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;“ … jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”&lt;br /&gt;Adalah dalil bahwa barangsiapa tidak mengembalikan perkara dan perselisihannya kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka pengakuan keimanannya adalah dusta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Seandainya kita mengadakan pendekatan dengan mereka maka kita tidak akan selamat dari azab Allah.&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang- orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksa) Allah.” (QS. Al Jatsiyah : 18-19)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka tidak bisa menghindarkan kita dari kemurkaan Allah, kehinaan di hadapan- Nya dan azab yang jelek di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Apabila kita ditimpa kemurkaan Allah karena taat kepada mereka maka keselamatan dan kebaikan yang sebenarnya adalah dengan mencari keridhaan Rabb kita. Sebab, taat kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah hanya akan membuahkan kehinaan dan kerendahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud : 113)&lt;br /&gt;Kalau cenderung saja kepada mereka menyebabkan disentuh api neraka lalu bagaimana pendapat Anda dengan orang yang menerima sesuatu dari hukum- hukum mereka?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Apabila kita menaati mereka dalam sebagian perkara dan menolak untuk menaati mereka secara total niscaya mereka tidak akan ridha kepada kita. Mereka tidak akan berhenti melancarkan gangguan-gangguan terhadap kita selamanya sampai kita mau menerima agama mereka secara total dan meninggalkan agama kita secara total pula. Allah berfirman :&lt;br /&gt;Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqarah : 120)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan inilah yang menjadikan sebagian kaum Muslimin –terutama para penguasa– menerima aturan-aturan yahudi dan nashara. Mereka berkata : “Kami akan menaati mereka pada sebagian perkara saja.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Padahal Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang yahudi) : “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan.” Sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 25-28)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Sebagaimana tidak dibolehkan menerima kekufuran dan kesyirikan demikian pula tidak diizinkan menerima demokrasi. Karena ia adalah kufur, syirik, dan jahat! Bagaimana bisa seorang Muslim melahirkan satu sikap yang kontradiktif?&lt;br /&gt;Karena inilah Imam Syafi’i rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;“Jika kalian melihat aku menolak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka persaksikanlah bahwa akalku telah hilang!”&lt;br /&gt;Orang yang menerima kampanye taqrib (pendekatan) antara Islam dan demokrasi tidaklah memiliki akal yang sehat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Kita sangat berbeda dengan penganut demokrasi dari kalangan yahudi dan nashara serta agama-agama kafir lainnya. Karena mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Berbeda dengan kaum Muslimin. Mereka hidup di negeri Islam. Di hadapan mereka ada Al Quran dan As Sunnah serta para ulama dan da’i-da’i ilallah yang ikhlas dan selalu memberi nasihat. Tidak ada alasan bagi mereka untuk berjalan di belakang demokrasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isra : 107)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir padahal ayat- ayat Allah dibacakan kepada kamu dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran : 100-101)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran) lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu dan Dia- lah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran : 149-150)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menjadi dalil dari ayat ini adalah :&lt;br /&gt;“Bahkan Allahlah Pelindungmu dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran : 150)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. Sebaliknya, kita juga harus konsisten di atas Islam sebagaimana mereka juga konsisten di atas kekufuran dan kebatilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila mereka terus-menerus di atas kekufuran dan kebatilan, mengapa kita tidak mau terus-menerus berada di atas kebenaran padahal kebenaran tersebut ada pada kita?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Jika kamu menderita kesakitan maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderitanya sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An Nisa’ : 104)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah bersama kita, menjaga, menolong, membela, melindungi dan memuliakan kita di dunia dan akhirat. Surga adalah balasan bagi orang Mukmin dan neraka adalah balasan bagi orang kafir. Kalau tidak ada yang diperoleh dari Islam kecuali keselamatan dari azab kubur, azab hari kiamat, azab neraka dan masuk ke dalam Surga-Nya apakah akan ridha seorang Muslim dengan “jual beli” yang merugikan? Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang Mukmin apabila seluruh penduduk bumi kufur niscaya tetap tidak akan ragu terhadap kebenaran selamanya apalagi meninggalkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;8. Kita diperintah untuk menyeru seluruh manusia termasuk di dalamnya orang- orang yahudi dan nasrani agar masuk ke dalam agama Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka : “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran : 64)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila kita dituntut untuk mengajak mereka kepada Islam supaya mereka meninggalkan kesyirikan dan kekufuran, bagaimana bisa diperbolehkan bagi seorang Muslim –baik penguasa ataupun rakyat, pimpinan ataupun bawahan– beralih dari kedudukannya sebagai “pengajak” menjadi “orang yang diajak” dan menerima kejelekan serta kebatilan yang mereka bawa? Ini adalah kekeliruan yang keji dan kesesatan yang nyata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;9. Apabila kita meyakini keabsahan demokrasi niscaya tidak akan tertanam keimanan kita kepada Allah. Karena tidak sah keimanan kita sampai kita kufur terhadapnya (sistem demokrasi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al Baqarah : 256)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah menjadikan kufur kepada thaghut sebagai syarat sah keimanan.&lt;br /&gt;Di sini ada persoalan penting yaitu mengapa Allah mendahulukan perintah kufur kepada thaghut?&lt;br /&gt;Jawabnya :&lt;br /&gt;Bahwa adanya “syarat” tidak mengharuskan adanya “masyruth” (sesuatu yang disyaratkan) dalam kondisi apapun. Kalau “syarat” tidak ada maka hal itu menunjukkan tidak adanya masyruth. Rabb kita Azza wa Jalla telah menjadikan kufur terhadap thaghut sebagai syarat sahnya iman. Apabila syarat ini hilang maka batallah manfaat keimanan. Syarat di sini adalah sesuatu yang mengharuskan adanya sesuatu yang disyaratkan. Maka keduanya –yakni mengkufuri thaghut dan iman kepada Allah– adalah sesuatu yang mengharuskan dan yang diharuskan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (QS. An Nahl : 36)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.” (QS. An Nisa’ : 60)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak diragukan lagi bahwa demokrasi adalah thaghut terbesar. Tukang sihir adalah thaghut. Orang yang menyelisihi hukum Allah yang qath’i (pasti ketentuan hukumnya, ed.) dalam satu atau dua masalah adalah thaghut. Lalu apa pendapat Anda terhadap demokrasi yang pada hakikatnya dianggap oleh para pengikutnya sebagai “sesembahan” ? Demokrasi itulah yang dipandang berhak menetapkan segala peraturan dan melawan hukum-hukum Allah Azza wa Jalla ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andai mengeraskan suara di sisi perkataan Allah dan Rasul-Nya bisa menyebabkan terhapusnya amal shalih dari diri seorang Muslim sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;“Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat : 2)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka bagaimana pendapat Anda terhadap orang yang di samping mengeraskan suara juga menolak hukum Allah dan Rasul-Nya? Bagaimana pendapat Anda terhadap orang yang berpaling, melecehkan hukum Allah dan Rasul, bersikap sombong bahkan memusuhi dengan segala harta dan jabatan yang ia miliki? Bukankah orang ini lebih pantas untuk dihapus iman dan amal shalihya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10. Anggap saja kaum Muslimin –karena terpesona retorika para propagandis demokrasi– menerima paham dan ajaran demokrasi tersebut. Lantas siapa yang akan menjamin keberadaan dan keberlangsungan paham ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana paham-paham lain yang muncul lebih dulu dari masa ke masa, paham demokrasi pun telah tersebar dan tersiar. Orang menyangka paham ini tidak mungkin digoyahkan. Namun ternyata kerusakannya begitu cepat dan nyata di hadapan manusia sehingga dengan serta merta mereka pun meninggalkan paham tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak usah jauh-jauh! Ambil contoh kasus paham sosialisme yang memiliki hakikat kekufuran yang sama dengan demokrasi. Adakah kaum sosialis era ‘60-an dan ‘70- an yang mengira bahwa pada akhirnya paham ini akan hancur lebur dan musnah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dahulu sebagian orang ada yang berkata : “Umat manusia hanya bisa diselamatkan oleh sosialisme!”&lt;br /&gt;Saksikanlah! Sosialisme kini telah lenyap! Dan orang yang pertama kali mengingkarinya adalah para penggagasnya sendiri!&lt;br /&gt;Kenapa ajaran tersebut gagal?&lt;br /&gt;Jawaban yang paling gampang adalah karena sosialisme itu buatan manusia! Demikian pula demokrasi juga buatan manusia yang tidak memiliki hak memerintah sedikitpun. Karena sesungguhnya yang mengatur kehidupan adalah Allah sebagaimana yang Dia kehendaki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Buruj : 16)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Katakanlah : “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 26)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bolehkah bagi kita menolak apa yang datang dari Allah untuk menerima pendapat ahli filsafat dan penyembah berhala?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bolehkah kita menolak syariat Allah padahal syariat-Nya adalah syariat yang sempurna dan universal dari masa ke masa serta senantiasa relevan untuk setiap waktu dan tempat?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya sejak diutusnya Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lebih dari 1400 tahun yang lalu, syariat ini tidak pernah berkurang satu huruf pun dan akan terus terjaga. Syariat Allah akan kekal dengan izin-Nya sampai hari kiamat!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dapatkah dibenarkan kita berjalan beriringan bersama mereka padahal para pemikir mereka mengatakan : “Sesungguhnya tidak ada cara untuk mengatasi krisis ini kecuali dengan berpegang teguh kepada Islam.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Doktor Imaduddin Khalil di dalam bukunya, Qalu anil Islam menyebutkan lebih dari dua puluh pemikir barat yang mengatakan : “Tidak ada agama yang mampu mengatasi seluruh problematika manusia di dunia sekarang ini selain Islam. Inilah keistimewaan Islam.” Seluruh perkataan mereka berkisar pada makna ini.&lt;br /&gt;Di dalam buku tersebut dia juga menyebutkan banyak perkataan yang menjelaskan tentang keagungan Al Quran dan keagungan Nabi Dan kebenaran adalah sebagaimana dipersaksikan oleh musuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Islam adalah kebenaran tidak diragukan lagi, baik musuh-musuh mengakuinya atau tidak. Namun kebenaran tersebut akan semakin kokoh tertanam di relung hati kebanyakan manusia ketika musuh mereka ikut mengakuinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah telah berfirman :&lt;br /&gt;“Kebanyakan orang-orang ahli kitab menghendaki seandainya mereka dapat mengembalikan kalian (wahai orang-orang beriman) kepada kekufuran disebabkan kedengkian yang ada pada diri-diri mereka setelah jelas kebenaran itu bagi mereka.” (QS. Al Baqarah : 109)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah yang menghalangi mereka untuk beriman?&lt;br /&gt;Jawabnya adalah :&lt;br /&gt;Kedengkian yang tersembunyi di dalam jiwa-jiwa mereka. Allah telah memberi keutamaan kepada umat ini dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepada umat yang lain. Karena itulah mereka dengki kepada kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian) dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Baqarah : 105)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sebab kebaikan yang dikhususkan Allah kepada kita maka pecahlah hati orang-orang yahudi dan nashara karena dengki. Kedengkian tersebut mendorong mereka untuk merencanakan makar demi makar kepada kita. Pikiran mereka tidak akan tenang kecuali apabila mereka bernafas dengan sesuatu dari kedengkian ini. Ia adalah penyakit kronis yang muncul ketika semakin besar kenikmatan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih untuk menaati-Nya dan membela agama-Nya.&lt;br /&gt;Yahudi, nasrani dan lainnya akan terus menggembar-gemborkan demokrasi dan pemilu. Bagi mereka hal itu sudah merupakan suatu keharusan sebagai bagian dari “agama” mereka. Barangsiapa yang menganut kekufuran niscaya dia akan menyebarkannya. Inilah firman Allah tentang para pengusung demokrasi dari kalangan yahudi, nashara dan yang semisal dengan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 42)&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Hai ahli kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil dan menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahui?” (QS. Ali Imran : 71)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan : “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah.” Padahal ia bukan dan sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran : 78)&lt;br /&gt;Inilah karakter yahudi! Mereka sangat lihai menelusupkan kerancuan dan keresahan di barisan kaum Muslimin. Lihatlah apa yang terjadi akibat kerancuan-kerancuan ini di tubuh umat Islam sekarang!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya yahudi dan nasranilah yang merupakan biang kerok dari segala fitnah yang merusak barisan kaum Muslimin. Akan tetapi anehnya, justru ada sebagian kaum Muslimin sendiri yang turut serta menanamkan kerancuan kepada sesamanya. Mereka menjadikan demokrasi dan pemilu sebagai masalah yang harus ditanggapi secara positif atau minimalnya disikapi secara netral.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahwa demokrasi merupakan salah satu dari kemajuan zaman dan bahwa ia mengajak kepada kebebasan, persaudaraan, dan persamaan telah kami jelaskan sedikit dari kata-kata ini pada pasal yang lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak boleh bagi seorang Muslim untuk menyerupai orang-orang yahudi dan nasrani dalam mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil. Tidaklah Allah mencabut kenikmatan syariat dari ahlul kitab kecuali dengan sebab disembunyikannya Al Haq oleh mereka dan dicampur aduk dengan al bathil. Padahal Allah telah menjamin terjaganya agama ini hingga hari kiamat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-mendekatkan-ajaran-islam-dengan-demokrasi/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-3581617326086155098?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/3581617326086155098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mendekatkan-ajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3581617326086155098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3581617326086155098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mendekatkan-ajaran.html' title='Menggugat Demokrasi - Mendekatkan Ajaran Islam Dengan Demokrasi'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-6685243477198473370</id><published>2008-12-16T06:33:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:38:37.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Pandangan Islam Terhadap Orang Yang Menerima Paham Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sini ada persoalan penting yakni bagaimana pandangan hukum Islam terhadap orang yang menerima paham demokrasi tanpa adanya alasan syar’i?&lt;span id="more-285"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah menjadikan orang yang menginginkan selain Islam termasuk golongan “orang- orang yang merugi pada hari kiamat” kecuali orang tersebut belum sampai pada apa yang dia inginkan dan belum mengerjakan apa yang dia maukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman mengisahkan kerugian orang ini :&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang ringan timbangannya maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata : “Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (QS. Al Mukminun : 103- 106)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah : 50)&lt;br /&gt;Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya hanya ada dua hukum, hukum Allah Azza wa Jalla dan hukum makhluk-Nya. Dan Allah menjelaskan bahwa hukum selain-Nya adalah hukum jahiliyah walaupun manusia memandangnya sebagai lambang kemajuan dan “lebih demokratis”. Dan demokrasi adalah hukum jahiliyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-pandangan-islam-terhadap-orang-yang-menerima-paham-demokrasi/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-6685243477198473370?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/6685243477198473370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pandangan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/6685243477198473370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/6685243477198473370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-pandangan-islam.html' title='Menggugat Demokrasi - Pandangan Islam Terhadap Orang Yang Menerima Paham Demokrasi'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-1164670623550622623</id><published>2008-12-16T06:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:33:34.634+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Unsur Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demokrasi sendiri memiliki tiga unsur yaitu :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. At Tasyri’ (Legislatif)&lt;br /&gt;Tidak ada yang berhak menetapkan peraturan kecuali demokrasi. Padahal Allah-lah Ahkamul Hakimin (Hakim Yang Seadil-adilnya) dan Arhamur Rahimin (Yang Maha Penyayang) yang bagi-Nya seluruh kekuasaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;Dalam demokrasi, hukum-hukum-Nya tidak lagi berlaku. Dia tidak boleh membuat peraturan bagi hamba-hamba-Nya. Membuat peraturan adalah ujung tombak dari undang-undang. Karena itulah dibuat peraturan demi melestarikan demokrasi.&lt;span id="more-275"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Al Qadha’ (Yudikatif)&lt;br /&gt;Tidak diperkenankan bagi seorang penguasa pun untuk memutuskan sesuatu kecuali berdasarkan undang-undang. Kalau tidak maka dia akan terkena hukuman. Sebagaimana tertera pada pasal 147 undang-undang dasar negeri Yaman :&lt;br /&gt;“Memberi keputusan adalah kekuasaan tersendiri baik di dalam masalah hukum, harta kekayaan maupun administrasi. Dan pengadilan diberi kemerdekaan untuk memberi keputusan hukum dalam seluruh perkara perdata dan pidana. Para hakim adalah independen, tidak ada atasan bagi mereka dalam menjatuhkan vonis kecuali undang-undang.”&lt;br /&gt;Renungkanlah kata-kata “tidak ada atasan bagi mereka dalam menjatuhkan vonis kecuali undang-undang”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. At Tanfidz (Eksekutif)&lt;br /&gt;Tidak boleh melaksanakan satu keputusan pun kecuali yang berasal dari undang- undang. Itu berarti membekukan seluruh aturan-aturan syari’ah dan kepada Allah- lah tempat mengadukan segala urusan. Lihatlah pada pasal 104 yang berbunyi :&lt;br /&gt;“Yang menjadi pelaksana kekuasaan sebagai ganti dari rakyat adalah presiden dan kementrian sesuai garis-garis yang telah ditentukan di dalam undangundang.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila kita telah mengetahui bahwa demokrasi merupakan sistem hidup menurut kacamata pembuat dan pembelanya maka yakinlah kita bahwa ia tidak hendak lengser dan berubah. Demokrasi adalah sistem sosial politik internasional yang disokong dan disepakati oleh negara-negara besar. Demokrasi adalah sistem dan pandangan hidup global. Tidak ada halangan bagi kelompok pro-demokrasi untuk mengubah satu bagian atau satu kata saja dari pasal tersebut demi kepentingan demokrasi itu sendiri. Namun itu dilakukan bukan untuk meruntuhkannya seperti kenyataan yang kita saksikan sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf : 21)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/05/14/menggugat-demokrasi-unsur-demokrasi/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-1164670623550622623?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/1164670623550622623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-unsur-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/1164670623550622623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/1164670623550622623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-unsur-demokrasi.html' title='Menggugat Demokrasi - Unsur Demokrasi'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-8071736305400656442</id><published>2008-12-16T06:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:30:49.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Definisi Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div class="posttitle"&gt;      &lt;h2&gt;Menggugat Demokrasi - Definisi Demokrasi&lt;/h2&gt;      &lt;p class="post-info"&gt;13 Mei 08 oleh &lt;a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/author/wiramandiri/" title="Tulisan oleh Wira"&gt;Wira&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Definisi Demokrasi&lt;br /&gt;Abdul Ghani Ar Rahhal di dalam bukunya, Al Islamiyyun wa Sarah Ad Dimuqrathiyyah mendefinisikan demokrasi sebagai “kekuasaan rakyat oleh rakyat”. Rakyat adalah sumber kekuasaan.&lt;br /&gt;Ia juga menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengungkap teori demokrasi adalah Plato. Menurut Plato, sumber kekuasaan adalah keinginan yang satu bukan majemuk. Definisi ini juga yang dikatakan oleh Muhammad Quthb dalam bukunya Madzahib Fikriyyah Mu’ashirah. Dan juga oleh penulis buku Ad Dimuqrathiyyah fi Al Islam serta yang lainnya.&lt;span id="more-274"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkembangan Demokrasi&lt;br /&gt;Revolusi Prancis tercetus dengan semboyannya yang terkenal “kebebasan, persaudaraan, dan persamaan .” Prancis memasukkan demokrasi ke dalam undang- undang dasarnya di bawah judul Hak-Hak Asasi Manusia pada pasal ketiga :&lt;br /&gt;“Rakyat adalah sumber dan gudang kekuasaan. Setiap lembaga atau individu yang memegang kekuasaan tidak lain mengambil kekuasaan dari rakyat.”&lt;br /&gt;Pasal ini dimasukkan kembali pada undang-undang dasar tahun 1791 M. Di situ disebutkan bahwa tahta kepemimpinan adalah milik rakyat. Sistem ini tidak mengakui model pembagian kekuasaan, pengunduran diri ataupun meraih kekuasaan dengan cara kudeta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian paham demokrasi inipun dicantumkan di dalam undang-undang dasar sebagian negara Arab dan Islam. Sebagai contoh di Mesir ditetapkan di dalam undang-undang kesatu tahun 1923 serta 1956. Dan pada tahun 1971 di dalam undang-undang tersebut terdapat teks yang menyebutkan antara lain bahwa :&lt;br /&gt;“Kepemimpinan adalah milik rakyat dan rakyat adalah sumber kekuasaan menurut cara yang dijelaskan di dalam undang-undang.”&lt;br /&gt;Pasal ini terdapat pada undang-undang nyaris semua negara Arab dan Islam. Pasal semacam ini juga termaktub di dalam undang-undang Yaman, negara kami. Pada pasal empat misalnya disebutkan :&lt;br /&gt;“Rakyat adalah pemilik dan sumber kekuasaan. Kekuasaan itu bisa diperoleh secara langsung dengan cara referendum atau lewat pemilihan umum demikian pula mencabut kekuasaan itu dapat dilakukan secara tidak langsung melalui lembaga legislatif, yudikatif, dan eksekutif serta melalui majelis-majelis perwakilan yang dipilih.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari sini dapat diketahui bahwa demokrasi adalah “Rabb” yang berhak menetapkan syariat.&lt;br /&gt;Maka tidak samar bagi seorang Muslim bahwa ini adalah perbuatan kufur akbar, syirik akbar, dan kezaliman yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan Luqman Al Hakim :&lt;br /&gt;“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syirik apalagi yang lebih besar daripada meniadakan peribadatan kepada Allah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/05/13/menggugat-demokrasi-definisi-demokrasi/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-8071736305400656442?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/8071736305400656442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-definisi-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8071736305400656442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8071736305400656442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-definisi-demokrasi.html' title='Menggugat Demokrasi - Definisi Demokrasi'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-7681288107633081589</id><published>2008-12-16T06:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T06:29:20.595+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku: Menggugat Demokrasi'/><title type='text'>Menggugat Demokrasi - Mukaddimah Penyusun</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya.&lt;span id="more-273"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar- benarnya takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran : 102)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :&lt;br /&gt;“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah mengkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An Nisa’ : 1)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab : 70-71)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amma ba’du,&lt;br /&gt;Pada masa-masa belakangan ini –terlebih abad tiga belas dan empat belas Hijriyyah– telah terjadi serangan bertubi-tubi terhadap kaum Muslimin lewat beragam cara khususnya lewat perang pemikiran yang mengerikan. Orang-orang yahudi dan nasrani memerangi Islam di setiap lini. Mereka berusaha mengurai tali Islam seutas demi seutas. Mereka pun berusaha meracuni kaum Muslimin dengan memasukkan kerancuan-kerancuan di dalam Al Quranul Karim, Sunnah Nabi yang shahih, Bahasa Arab dan sejarah. Mereka menikam umat Islam ketika mayoritas umat dalam keadaan lupa dan lalai terhadap agama mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tikaman terbesar yang ditimpakan kepada kaum Muslimin adalah makar penyebaran perbedaan pemikiran dan madzhab (khilaf al fikri wal madzhabi) yaitu menyangkut perkara yang berkaitan dengan penguasa dan pemerintah kaum Muslimin yang dipasang oleh musuh-musuh Islam. Ketika mereka berhasil menebarkan ikhtilaf pemikiran dan madzhab di antara orang-orang tersebut mereka pun mampu meruntuhkan Khilafah Islamiyyah. Mereka terus-menerus memperluas jurang perbedaan yang besar ini. Kemudian mereka jadikan negeri kaum Muslimin tersekat- sekat dan terpecah-belah. Setelah mereka sukses melakukan ini semua mereka pun berdaya upaya memisahkan Islam dari kehidupan umat, aktivitas pemerintahan dan yang lainnya dengan menyusun undang-undang buatan (manusia) dan menggambarkannya seolah-olah sebagai semangat zaman dan puncak peradaban.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka muncullah musibah yang menimpa kaum Muslimin –pertama-tama– di dalam perihal agama mereka. Kemudian diikuti oleh musibah pada kehidupan dunia mereka. Dan musibah demi musibah ini kian bertambah parah dengan kemunculan demokrasi. Mereka mengatakan demokrasi inilah yang relevan dengan situasi kekinian, norma hukum yang melestarikan hak-hak asasi. Kenyataan ini diperkuat oleh kebodohan kaum Muslimin sendiri terhadap agama mereka. Sehingga jadilah metodologi dan fikrah (paham) demokrasi ini sebagai “Rabb” bagi orang-orang yang mengimaninya, mengamalkan dan menjaganya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Quran dan As Sunnah cukup untuk menyingkap dan menguak kejahatan ini.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Quran (supaya jelas jalan orang- orang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al An’am : 55)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat ini adalah penjelasan dari Rabb kita Yang Maha Mengetahui segala yang rahasia dan tersembunyi, Yang Maha Mengetahui segala yang kasat mata maupun yang tersimpan di dalam dada. Ayat ini datang menjelaskan bahwa merupakan satu keharusan untuk memperingatkan manusia agar berhati-hati dari kekufuran, kesyirikan dan kejahatan –termasuk– demokrasi dengan berbagai tata caranya.&lt;br /&gt;Demokrasi adalah kejahatan yang tidak akan tegak agama kaum Muslimin kecuali dengan memutus dan memisahkannya dari jalan yang benar. Manusia yang paling sempurna pengetahuannya terhadap Rabb dan agama mereka adalah manusia yang memiliki ilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah yang mampu mendeteksi kekufuran yang muncul atas nama kemajuan, peningkatan, hak-hak asasi manusia dan perlindungan terhadap umat yang tertindas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;“Dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al An’am : 55)&lt;br /&gt;Maka kita harus mengetahui bahwa perkara terbesar yang bisa membantu kita menghadapi bahaya dan berbagai sarananya adalah beramal dengan cara-cara syar’i. Di samping itu kita juga harus mengetahui hakikat Islam dan hakikat kekufuran. Islam tidak butuh kepada seluruh hukum dan syariat-syariat buatan. Karena di dalamnya terdapat makrifat hakikat Islam dan kekufuran. Rabb kita Jalla Sya’nuhu sendiri telah menjelaskan hal ini dengan tujuan agar kita dapat mengetahui yang benar dari yang salah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqan : 33)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya al haq itulah yang akan menghancurkan kebatilan sehancur- hancurnya. Sungguh Allah telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya yang mulia dan juga Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang keadaan orang-orang yang sesat dan membuat kerusakan di muka bumi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menambah rusak urusan adalah jika ada orang yang mengaku berilmu dari kalangan penulis, budayawan dan para “ulama” menjulurkan lidahnya di belakang ketamakan terhadap dunia. Mereka bangkit membantah musuh-musuh Allah namun bantahan mereka tidak didasarkan pada kekuatan hujjah dan kedalaman akidah yang benar. Dan mereka sangat lemah dalam hal penguasaan ilmu syari’ah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum lama mereka membantah dan meyakinkan umat tentang rusaknya kemajuan yang dicapai Eropa tiba-tiba kini justru mereka yang mencocoki Eropa dalam perkara-perkara yang baru saja diingkari. Tiap orang dari mereka telah membuka satu pintu masuk bagi keburukan-keburukan. Sebagian mereka masuk lewat pintu tabarruj dan melepas hijab. Sebagian yang lain masuk lewat pintu riba. Sebagian lainnya masuk melalui pintu seruan kepada westernisasi. Yang lain lagi masuk lewat pintu seruan mengambil undang-undang mereka. Yang lain masuk lewat pintu seruan untuk melupakan dan membuang masa lalu termasuk membuang kewajiban berhukum dengan Al Quran dan As Sunnah yang suci. Sebagian lagi menyeru untuk melakukan “peninjauan ulang” terhadap syariat. Sebagian menyeru kepada persatuan agama-agama. Sebagian menyerukan pendekatan antara As Sunnah dengan aliran-aliran sesat. Sebagian menyeru kepada hizbiyyah. Sebagian menyeru agar menerima simbol-simbol dan esensi demokrasi. Sebagian menyeru kepada pemilu dengan anggapan bahwa yang diharamkan hanya demokrasinya saja. Demokrasi itu sistem kufur namun pemilu tidaklah demikian. Begitu menurut mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika muncul pada diri mereka sikap tidak patuh pada kebenaran jadilah kebenaran –yang kemarin hari masih dianggap sebagai kebenaran– menjadi kebatilan pada hari ini. Kerancuan demi kerancuan melumuri mereka. Sehingga mereka pun menjadi pembela pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan yang dibawa oleh musuh serta sangat bersemangat untuk meyakinkan manusia bahwa hal itu tidak mengeluarkan seorang Muslim dari ajaran agama. Mereka menganggap enteng hal- hal yang diharamkan. Salah seorang di antara mereka mengatakan : “Seorang Muslim dapat menerima undang-undang buatan dalam keadaan dia tetap berada di atas akidahnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Benarlah Umar ketika berkata kepada Ziyad bin Hudhair :&lt;br /&gt;“Tahukah kamu hal-hal yang bisa menghancurkan Islam?” Ziyad berkata, aku menjawab : “Tidak tahu.” Umar berkata : “Yang menghancurkan Islam adalah tergelincirnya seorang alim, bantahan seorang munafik dengan menggunakan Al Kitab dan berkuasanya para pemimpin yang menyesatkan.” (Riwayat Ad Darimi dan Ibnu Abdil Barr di dalam Al Jami’ dan atsar ini adalah shahih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Adi bahwasanya Umar radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah seorang munafik yang pintar bicara.”&lt;br /&gt;Juga terdapat riwayat Ahmad dan Thabrani dari hadits Abu Darda ia berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi dari hadits Imran bin Hushain radliyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;Yang dikhawatirkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah apa yang telah diperlihatkan oleh Allah kepada beliau dari fitnah-fitnah yang akan terjadi pada umat ini. Sungguh Allah telah memperlihatkan dan memberitahukan kepada beliau tentang para pelakunya. Nabi menamai mereka sebagai “para pemimpin yang menyesatkan”. Mereka kerahkan segenap potensi yang mereka miliki untuk membantah dan mendebat Al Quran serta menebarkan kerancuan-kerancuan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Berdebat tentang Al Quran adalah kufur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Mereka mengambil ayat-ayat yang mutasyabihat• dari Al Quran untuk menyesatkan manusia dan memberikan kerancuan kepada kaum Muslimin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (QS. Ali Imran : 7)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sebab mereka, merebaklah perdebatan dan penyimpangan di kalangan kaum Muslimin. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan kita agar berhati-hati dari golongan ini. Di dalam riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari hadits Aisyah radliyallahu ‘anha beliau berkata :&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca :&lt;br /&gt;[Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Quran] hingga firman-Nya :&lt;br /&gt;[Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal] (kemudian) beliau bersabda :&lt;br /&gt;“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah maka berhati-hatilah terhadap mereka.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yaitu terus menerus waspada dari bahaya pemikiran dan talbis (pengkaburan) mereka. Sungguh kalangan Salaf telah menjatuhkan sikap dan sanksi yang setimpal terhadap golongan manusia seperti ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka, Salafus Shalih berdiri menghadapi mereka karena menyadari bahayanya golongan ini, golongan yang tidak dikaruniai ilmu yang bermanfaat, sikap tsabat (keteguhan) dan keikhlasan hati. Bahkan mereka selalu ditimpa keraguan dan kebimbangan. Mereka menyangka berada di atas kebenaran dan hujjah, bersikap sombong terhadap ulama Rabbaniyyin, menghantam setiap penyeru al haq, menentang para ulama Salaf dan pemahaman mereka bahkan menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mengatakan : “Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masih hidup niscaya beliau akan berhukum dengan demokrasi. Seandainya beliau masih hidup niscaya akan mendoakan keberkahan terhadap kami atas kemajuan ini.”&lt;br /&gt;Setiap orang yang sesat dari golongan ini menganggap benar madzhab dan kelompoknya meski pada akhirnya yang muncul adalah penyimpangan di kalangan manusia. Setan selalu berkata kepada mereka : “Kalian berada di atas sirath al mustaqim!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika telah terbongkar dan tersingkap keadaan mereka yang sebenarnya mereka pun tampil dengan wajah yang lain dan rupa yang bermacam-macam. Akan tetapi sebanyak dan segiat apapun orang-orang yang menyimpang itu membikin kerancuan maka sungguh Allah telah menugaskan satu kaum untuk membongkar dan menjelaskan kesalahan mereka, melumpuhkan syubhat mereka, menjelaskan pembelotan mereka dari kebenaran, bahaya mereka terhadap umat dan kerusakan yang mereka lakukan terhadap Islam. Kelompok yang diberkahi adalah Ahli Ilmu yang mendapat bimbingan dan taufik dari Allah untuk beramal dengan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan pemahaman Salaful Ummah dalam keyakinan, ucapan maupun amalan. Merekalah orang-orang yang dipilih Allah untuk membela agama-Nya.&lt;br /&gt;Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa kelompok tersebut akan senantiasa ada sepanjang masa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Akan terus ada sekelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran hingga datang keputusan Allah sedang mereka dalam keadaan menang.” (Hadits Muttafaq ‘alaihi dari Al Mughirah radliyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits Mu’awiyah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;“Akan terus ada sekelompok dari umatku yang menegakkan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.”&lt;br /&gt;Hadits ini juga datang secara mutawatir dari Tsauban, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Imran bin Hushain, Uqbah bin Amir, Qurrah bin Iyas, Jabir bin Abdillah, Jabir bin Samurah, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Anbah Al Khaulani dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh Allah telah menjaga agama-Nya dengan thaifah (kelompok) yang selalu mendapatkan pertolongan ini dahulu maupun sekarang. Dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah bersepakat bahwa thaifah yang dimaksud adalah Ahlul Hadits. Sebagaimana pendapat Ahmad bin Hambal, Ibnu Al Mubarak, Ibnu Al Madini, Yazid bin Harun, Al Bukhari dan lain-lain. Untuk melihat riwayat perkataan mereka ini silakan merujuk pada Kitab As Sunnah karangan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan selainnya dari kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun yang dilakukan para ulama umat di masa sekarang ini di dalam membantah pelaku kebatilan merupakan kelanjutan saja dari jejak langkah penuh berkah yang pernah ditempuh oleh para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dan perkara pemilu yang akan kami jelaskan hukumya menurut syariat adalah di antara perkara- perkara yang menjadi fitnah bagi kaum Muslimin dan sebagian orang yang mengaku memiliki ilmu dan pemahaman. Maka wajib bagi kami untuk menimbangnya dengan timbangan syariat seperti yang akan pembaca dapati penjelasannya di pembahasan ini. Insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku dapati masalah pemilu ini memiliki banyak sekali mafsadat (kerusakan) sebagaimana tercantum di dalam Al Quran secara rinci.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada seorang pun yang menelaah sebagian apalagi keseluruhan dari kerusakan-kerusakan pemilu yang tidak sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya ia merupakan sistem thaghut. Pemilu diharamkan dengan sangat keras pasti tanpa keraguan. Meskipun dulu saya akui bahwa saya tidak mampu membahas masalah ini karena beberapa sebab di antaranya ialah keterbatasan ilmu. Dan saya juga tidak ingin membuat kitab ini jadi berat dengan banyak pembahasan dan kutipan dari para ulama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan aku berusaha untuk tidak menyebut hadits kecuali yang shahih lidzatihi atau lighairihi dan hasan lidzatihi atau lighairihi. Dan inilah yang selaras dengan keyakinan kita yang mantap bahwa Islam adalah sempurna dan universal tidak ada kekurangan di dalamnya dari sisi manapun. Inilah ajaran yang para shahabat berada di atasnya. Inilah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap mereka sebagaimana telah dimaklumi. Dan amalan ini –yaitu menjauhi hadits munkar dan dhaif– adalah wajib bagi kita supaya kita tidak memasukkan ke dalam agama sesuatu yang bukan bagiannya. Inilah perbuatan ulama Ahlul Hadits.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku bagi kitab ini menjadi dua pasal, kerusakan pemilu dan syubhat serta bantahannya. Dan aku buat mukadimah yang memuat definisi dan pengertian demokrasi dan aku akhiri dengan menjelaskan sekilas tentang aspek dakwah kami yang kami sarikan dari Al Quran dan As Sunnah dan manhaj Salaful Ummah sebagai nasihat untuk kaum Muslimin serta penutup kitab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber url:http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/05/12/menggugat-demokrasi-mukaddimah-penyusun/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-7681288107633081589?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/7681288107633081589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mukaddimah-penyusun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7681288107633081589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7681288107633081589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/menggugat-demokrasi-mukaddimah-penyusun.html' title='Menggugat Demokrasi - Mukaddimah Penyusun'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-6232853832943266399</id><published>2008-12-08T16:40:00.004+07:00</published><updated>2008-12-08T16:48:59.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Derajat Hadits Shalat Tasbih (Bag. II)</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Daventry;font-size:16;color:fuchsia;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Oleh : Ust. Luqman Jamal LC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:blue;"   &gt;Sering terdengar bahkan pernah terlihat dari kaum muslimin yang melakukan sholat tasbih pada malam-malam tertentu khususnya malam jum’at, apakah ada dasarnya dari al-qur’an dan sunnah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Daventry;font-size:85%;color:fuchsia;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(sambungan dari&lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shakat-tasbih-bag-i.html"&gt; bagian I&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;5. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;sh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dikeluarkan oleh Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud 2/48 no.1298 dan Al-Baihaqy 3/52 dari jalan Mahdy bin Maim&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;n dari ‘Amr bin Malik dari Abu Al-Jauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i dia berkata : “Seorang laki-laki yang dia adalah sahabat, menurut mereka dia adalah ‘Abdullah bin ‘Amr dia berkata : “bersabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; …” kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud : “Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Mustamir bin Rayy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari Abu Al-Jauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara &lt;i&gt;mauq&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;f &lt;/i&gt;(dari perkataan sahabat). Dan diriwayatkan pula oleh Rauh bin Al-Musayyab dan Ja’far bin Sulaim&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari ‘Amr bin Malik An-Nukri dari Abu Al-Jauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i dari perkataannya. Dan dikatakan dalam hadits Rauh ia berkata hadits Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; (yakni secara &lt;i&gt;marfu’&lt;/i&gt;-pen-)”. Dan hal yang serupa dinyatakan pula oleh Imam Al-Baihaqy.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:fuchsia;"   &gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Ibnu Hajar : “Akan tetapi perselisihan terletak pada Abu Al-Jauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i. Ada yang mengatakan hadits ini darinya dari Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s dan ada yang mengatakan darinya dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan adapula yang mengatakan dari dia dari Ibnu ‘Umar, bersamaan dengan itu ada perselisihan (dalam riwayatnya) apakah hadits ini &lt;i&gt;marf&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt; (sampai kepada Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;) atau &lt;i&gt;mauq&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;f&lt;/i&gt; (sampai kepada sahabat). Dan dalam riwayat secara &lt;i&gt;marf&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ &lt;/i&gt;juga ada perselisihan pada siapa hadits ini dikatakan apakah kepada Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s atau Ja’far atau ‘Abdullah bin ‘Amr ataukah Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s. Ini adalah &lt;i&gt;idhthir&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;b&lt;/i&gt; (kegoncangan) yang sangat keras. Dan Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ruquthny banyak mengeluarkan jalan-jalan hadits ini dengan uraian perselisihannya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Lihat : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t Ar-Rabb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;niyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; 4/314-315, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;2/41.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dan terdapat pula jalan lain yang dikeluarkan oleh D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ruquthni dari ‘Abdullah bin Sulaim&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin Al-Asy’ats dari Mahm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d bin Kh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lid dari seorang &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) dari ‘Umar bin ‘Abdul W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hid dari Tsaub&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya secara &lt;i&gt;marf&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Saya berkata : Mahm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d bin Kholid &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) dan demikian pula ‘Amr bin ’Abdul W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hid, akan tetapi dalam sanadnya ada rawi &lt;i&gt;mubham&lt;/i&gt; (tidak disebut namanya). Dan Tsaub&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n saya tidak mengetahui siapa dia. Wallahu A’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dan dikeluarkan pula oleh Ibnu Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hin dari jalan yang lain dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda kepada Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s … kemudian dia menyebutkan seperti hadits Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s. Akan tetapi hadits ini lemah. Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/41 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;at&lt;/u&gt; Ar-Rabbaniyyah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;4/314-315.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0mm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;6. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Hadits Ja’far bin Abi Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lib. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: 0mm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Hadits ini mempunyai dua jalan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -3.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pertama : Dari jalan D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud bin Qois dari Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’il bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ja’far ia berkata : “Sesungguhnya Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda kepadanya : “Inginkah engkau saya berikan …”, kemudian dia menyebutkan haditsnya. Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mushannaf&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 3/123 no.5004. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0mm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Dan dikeluarkan pula oleh Sa’id bin Mansh&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;r dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;As-Sunan &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan Al-Khotib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kitab Sholat At-Tasbih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; , Sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/242 dari jalan yang lain, dari Abi Ma’syar Naj&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;h bin Abdirrahman dari Abu R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ Ismail bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dia berkata : “Telah sampai kepada saya bahwa Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt; bersabda kepada Ja’far bin Abi Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lib…”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0mm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: 0mm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Saya berkata : Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;il bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ &lt;i&gt;dho’if&lt;/i&gt; (lemah haditsnya) bisa digunakan sebagai penguat. Akan tetapi hadits ini &lt;i&gt;mursal &lt;/i&gt;sebagaimana yang kamu lihat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Kedua : Dari jalan ‘Abdul Malik bin H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;run bin ‘Antarah dari bapaknya dari kakeknya dari ‘Ali bin Ja’far dia berkata Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda kepadaku… kemudian dia menyebutkan haditsnya. Dikeluarkan oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ruquthny sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/41-42 . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Saya berkata : Abdul Malik Ini &lt;i&gt;matr&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;k &lt;/i&gt;(ditinggalkan haditsnya) bahkan dianggap pendusta oleh sebagian ulama dan dituduh memalsukan hadits. Baca &lt;b&gt;&lt;i&gt;Miz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;7.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Hadits Al Fadhl bin ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Qurb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n Al-Muttaqin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari riwayat Musa bin Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’il dari ‘Abdil Ham&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d bin Abdurrahman Ath-Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;iy dari bapaknya dari Abu R&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;fi’dari Al-Fadhl bin ‘Abbas bahwasanya Rasulallah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda … kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar : “Dan dalam sanadnya ada Abdul Hamid bin Abdirrahman Ath-Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;`i, saya tidak mengenal dia dan saya tidak mengenal bapaknya. Dan saya menduga bahwa Abu Rofi’ guru Ath Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;`i bukan Abu Rofi’ Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’il bin Rofi’ salah seorang di antara orang yang lemah haditsnya”. Dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t Al Robb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;niyyah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;4/310.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;8.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Hadits ‘Ali bin Abi Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dikeluarkan oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny dari jalan ‘Umar maul&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; ‘Afarah &lt;span style="color:black;"&gt;dia berkata&lt;/span&gt; bersabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; kepada ‘Ali bin Abi Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lib : “Wahai ‘Ali saya akan memberimu hadiah …” kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar : “Dalam sanadnya terdapat kelemahan dan keterputusan”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Saya berkata : Sepertinya yang diinginkan oleh Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar dengan kelemahan yaitu kelemahan pada ‘Umar maula ‘Afarah dan dia adalah ‘Umar bin ‘Abdillah Al-Madany, &lt;i&gt;dho’if&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(lemah haditsnya) dan yang diinginkan dengan keterputusan adalah ‘Umar tidak pernah mendengar dari seorang sahabatpun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dan hadits ini memiliki jalan yang lain yang dikeluarkan oleh Al-W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hidy dalam Kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Da’w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dari jalan Ibnu Al-Asy’ats dari Musa bin Ja’far bin Ism&lt;u&gt;a’&lt;/u&gt;il bin M&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;sa bin Ja’far Ash Sh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;diq dari ayah-ayahnya secara berurut &lt;span style="color:black;"&gt;sampai kepada ‘Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar : “Sanad ini disebutkan oleh Abu ‘Ali dalam satu kitab yang dia susun dengan bab-bab semuanya dengan sanad ini dan para ulama telah mengeritiknya (pengarangnya) dan mengeritik kitabnya”. Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/41.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:red;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;9.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khathth&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dikeluarkan oleh Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim 1/629 no.1236. Dan dia berkata : “Ini adalah sanad yang shohih tidak ada kotoran di atasnya”&lt;span style="color:black;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Hukum Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim ini dikritik oleh Adz-Dzahaby dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Talkhish&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya bahwa dalam sanadnya ada Ahmad bin D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud bin ‘Abdul Goff&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r Al-Harr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny, dia dinyatakan pendusta oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny. Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u’&lt;/u&gt;ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;M&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar berkata dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ajwibah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya : “Dan dikeluarkan oleh Muhammad bin Fudhail dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari jalan yang lain dari Ibnu ‘Umar secara &lt;i&gt;mauq&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;f&lt;/i&gt;”. Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Misyk&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tul Mash&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;b&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/1781.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:red;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Saya berkata : Saya tidak melihat riwayat tersebut dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;span style="color:black;"&gt;Akan tetapi riwayat tersebut dikeluarkan oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny dari jalan Muhammad bin Fudhail dari Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin Abi ‘Ayy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;sy dari Abu Al-Jauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Dan Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin Abi ‘Ayy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;sy &lt;i&gt;matr&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;kul hadits &lt;/i&gt;(ditinggalkan haditsnya) dan dia juga telah &lt;i&gt;mudhthorib&lt;/i&gt; (goncang) dalam riwayatnya karena Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny juga meriwayatkan dari jalan Sufy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dan dia berkata dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t Ar-Robb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;niyyah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;4/306. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;10. Hadits ‘Abdullah bin Ja’far. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dikeluarkan oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u’&lt;/u&gt;ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/42 dari dua jalan dari ‘Abdullah bin Ziy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d bin Sam’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dan dia berkata pada salah satu jalannya dari Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wiyah dan Ism&lt;u&gt;a’&lt;/u&gt;il bin ‘Abdullah bin Ja’far. Dan dia berkata pada jalan lain dari ‘Aun pengganti Ism&lt;u&gt;a’&lt;/u&gt;il (yang terdapat di jalan pertama) dari ayah mereka berdua (Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wiyah dan Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’il atau Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wiyah dan ‘Aun) dia berkata Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda kepadaku : “Maukah engkau saya berikan …” kemudian dia menyebutkan hadtsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar : “Ibnu Sam’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n adalah &lt;i&gt;dho’if &lt;/i&gt;(lemah)”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dan dia berkata dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Taqrib At-Tahdzib &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: “&lt;i&gt;Matr&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;k &lt;/i&gt;(ditinggalkan haditsnya) dan &lt;i&gt;muttaham bilkadzib &lt;/i&gt;(tertuduh berdusta)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dan kegoncangan dalam sanad menambah lemah hadits ini. Wallahu A’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;11. Hadits Ummu Salamah Al-Ansh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;riyyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Qurb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n Al-Muttaq&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dari Sa’&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d bin Jubair dari Ummu Salamah bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; bersabda kepada Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s : “Wahai pamanku ….” Kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar : “Hadits ini &lt;i&gt;ghorib&lt;/i&gt; (aneh) dan ‘Amr bin Juma&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;’ salah seorang rawi hadits ini adalah lemah dan mendengarnya Sa’&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d bin Jubair dari Ummu Salamah masih perlu dilihat (yaitu tidak mendengar). Wallahu a’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Saya berkata : “’Amr bin Juma&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;’ disebutkan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;M&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dan dia &lt;i&gt;matr&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;k &lt;/i&gt;(ditinggalkan haditsnya). Bahkan dinyatakan berdusta oleh Ibnu Ma’&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n dan dicurigai memalsukan hadits.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading8"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Para Ulama Yang Menshohihkan Hadits Sholat Tasbih &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0mm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud As-Sijist&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny. Beliau      berkata : “Tidak ada dalam masalah sholat Tasbih hadits yang lebih shohih      dari hadits ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny. Beliau berkata : “Hadits      yang paling shohih dalam masalah keutamaan Al-Qur’an adalah (hadits      tentang keutamaan) &lt;i&gt;Qul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Huwa      Allahu Ahad &lt;/i&gt;dan yang paling shohih dalam masalah keutamaan sholat      adalah hadits tentang sholat Tasbih”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Al-&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;jurry.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ibnu Mandah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Al-Baihaqy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Ibnu As-Sakan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu Sa’ad As-Sam’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu Musa Al-Madiny.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Al-Mundziry dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Targhib Wa      At-Tarhib &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mukhtashar Sunan Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ibnush Shol&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h. Dia berkata : “Sholat      Tasbih adalah sunnah bukan bid’ah, hadits-haditsnya dipakai beramal      dengannya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;An-Nawawy, dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Tahdz&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;b Al&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="AR-SA"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Asma’ Wa Al-Lugh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Abu Manshur Ad Dailamy, dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad      Al-Firdaus.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:fuchsia;"   &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Shol&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;huddin      Al-‘Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i. Dia berkata : “Hadits sholat Tasbih shohih atau hasan dan      harus (tidak boleh dho’if)”.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Sirajudd&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n Al-Bilq&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;ny.      Dia berkata : “Hadits sholat tasbih shohih dan ia mempunyai jalan-jalan      yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya maka ia adalah      sunnah dan sepantasnya diamalkan”.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Az-Zarkasyi. Beliau berkata :      “Hadits sholat tasbih adalah &lt;i&gt;shohih&lt;/i&gt; dan bukan &lt;i&gt;dho’if &lt;/i&gt;apalagi      &lt;i&gt;maudhu’&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(palsu)”.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;As-Subki.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Az-Zubaidy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ith&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;f      As-S&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dah Al-Muttaqin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.3/473.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Ibnu N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;shiruddin      Ad-Dimasqy.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Khish&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l      Al-Mukaffirah Lidzdzun&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;b Al-Mutaqoddimah Wal Mutaakhkhirah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan      &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ijul Afk&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r Fi Am&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lil Adzk&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan      &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ajwibah ‘Ala Ah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dits Al-Mash&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;b&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;As-Suy&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;thy.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-Laknawy.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;As-Sindy.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-Mub&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rakf&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;ry dalam      &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tuhfah Al-Ahwadzy.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kir      -&lt;i&gt;rahimahullahu&lt;/i&gt;-.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-‘Allamah Al-Muhaddits N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;shirudd&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n      Al-Alb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny -&lt;i&gt;rahimahullahu&lt;/i&gt;- &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Shohih Abi D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt; (hadits      1173-1174), &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih At-Tirmidzi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih At-Targhib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      (1/684-686), &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tahqiq Al-Misykah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1/1328-1329)&lt;span style="color:black;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil      bin H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dy Al-W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;di’y -&lt;i&gt;rahimahullahu&lt;/i&gt;- dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ash-Shohih      Al-Musnad Mimm&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Laisa Fi Ash-Shohihain.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;color:black;"   &gt;Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/42-45,&lt;b&gt;&lt;i&gt; Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t Ar-Rabb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;niyyah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;4/318-322,&lt;b&gt;&lt;i&gt; Al-Adzk&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Imam An-Nawawy dengan tahqiq Salim Al-Hilaly 1/481-482 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Bughyah Al-Mutathowwi’ &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;hal.98-99. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Kesimpulan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Nampak dengan sangat jelas dari uraian di atas bahwa hadits sholat tasbih adalah hadits yang shohih atau hasan dan tidak ada keraguan akan hal tersebut. Wallahu A’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Catatan Penting :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ada beberapa ulama yang melemahkan hadits sholat tasbih ini andaikata bukan karena kekhawatiran pembahasan ini menjadi lebih panjang niscaya akan kami sebutkan perkataan-perkataan para ulama tersebut dan dalil-dalil mereka berikut dengan bantahan terhadap mereka. Wallahul Musta’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5 style="text-align: justify; text-indent: 0mm; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-GB"&gt;Kandungan Faidah Sholat Tasbih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tata Cara Sholat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Secara umum sholat tasbih sama dengan tata cara yag lain, hanya ada tambahan bacaan tasbih yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="AR-SA" &gt;سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali tiap raka’at dengan perincian sbb:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan I’tidal dibaca 10 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika duduk diantara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;S&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Demikianlah dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud yaitu pada raka’at yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke empat lalu salam. Dan boleh juga dilakukan dua raka’at dua raka’at dan setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam. Wallahu a’lam…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Jumlah Raka’at&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Semua riwayat menunjukkan 4 raka’at dengan tasbih sebanyak 75 kali tiap raka’at , jadi keseluruhannya 300 kali tasbih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Waktu Sholat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Yang paling utama waktu sholat tasbih adalah sesudah tenggelamnya matahari sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr. Tapi dalam riwayat Ikrimah yang Mursal diterangkan boleh malam dan boleh siang. Wallahu A’lam…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Catatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sholat ini ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pilihan : boleh tiap hari, kalau tidak bisa boleh tiap pekan kalau tidak bisa boleh tiap bulan, kalau tidak bisa boleh tiap tahun dan kalau tidak bisa boleh sekali seumur hidup, karena itu hendaklah kita memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi kita masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kesimpulan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hadits tentang sholat tasbih adalah hadits yang tsabit/sah dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;Shallallahu Alihi Wa Sallam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; , maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan diatas.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Penutup&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;U&lt;/span&gt;ntuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka kami juga sertakan penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi sekitar pelaksanaan sholat tasbih, diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0mm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Mengkhususkan pada malam Jum’at saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dilakukan secara berjama’ah terus menerus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu sebelum      sholat ataupun sesudah sholat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Tidak mau sholat kecuali bersama Imamnya atau      Jama’ahnya atau tariqatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Tidak mau sholat kecuali dimesjid tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Keyakinan sebagian yang melakukannya bahwa      rezekinya akan bertambah dengan sholat tasbih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Membawa binatang-binatang tertentu untuk      disembelih sebelum atau sesudah sholat tasbih disertai dengan      keyakinan-keyakinan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    Sumber: Majalah An-Nashihah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-6232853832943266399?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/6232853832943266399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shalat-tasbih-bag-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/6232853832943266399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/6232853832943266399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shalat-tasbih-bag-ii.html' title='Derajat Hadits Shalat Tasbih (Bag. II)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-8894411899731190337</id><published>2008-12-08T16:11:00.008+07:00</published><updated>2008-12-08T16:59:05.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Derajat Hadits Shakat Tasbih (Bag. I)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoTitle"&gt;&lt;span style=";font-family:Daventry;font-size:16;color:fuchsia;"   lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh : Ust. Luqman Jamal LC&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=""&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;Sering terdengar bahkan pernah terlihat dari kaum muslimin yang melakukan sholat tasbih pada malam-malam tertentu khususnya malam jum’at, apakah ada dasarnya dari al-qur’an dan sunnah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=""&gt;Jawab :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang sholat tasbih :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hadits Ibnu ‘Abb&lt;/span&gt;&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ أَلاَ أُعْطِيْكَ أَلاَ أُمْنِحُكَ أَلاَ أُحِبُّوْكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ عَشَرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وِسُوْرَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقُرْاءَةِ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشَرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تّهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِيْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِيْ كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ عُمْرِكَ مَرَّةً&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h1  style="font-weight: normal; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;Artinya :&lt;o:p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h1  style="font-weight: normal; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" lang="DE" &gt;Dari Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" lang="DE" &gt; bersabda kepada ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s bin ‘Abdul Muththolib : Wahai ‘Abbas, wahai pamanku maukah saya berikan padamu?, maukah saya anugerahkan padamu?, maukah saya berikan padamu?, saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak. Semuanya 10 macam. Kamu sholat 4 raka’at setiap raka’at kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai maka bacalah Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaaha illallah wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap raka’at. Lakukan yang demikian itu dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;empat raka’at. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hadits ini mempunyai empat jalan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pertama : Al-Hakam bin Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bersabda kepada Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s bin ‘Abdil Muththolib … kemudian dia menyebutkan haditsnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dikeluarkan oleh : Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud 2/29 no.1297 dan Ibnu M&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;jah 2/158-159 no.1387 dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/223-224 no.1216 dan Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim 1/627-628 no.1233-1234 Al-Baihaqy 3/51-52, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 11/194-195 no.11622 Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/37 dan Ibnu Al-Jauzy dalam Al-Maudhu&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t 2/143-144 dan Al-Hasan bin ‘Ali Al-Ma’mari dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Yaum Wal Laila&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Al-Khalily dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Irsy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/325 no.58 dan Ibnu Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Targhib Wa At-Tarhib &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;sebagaimana dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/39. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seluruhnya dari jalan ‘Abdurrahman bin Bisyr bin Al-Hakam Al-‘Abdi dari Abi Syu’aib Musa bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Qinb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ry dari Al-Hakam bin Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n … dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkata Az-Zarkasyi dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/44 : “Telah meriwayatkan dari Musa bin ‘Abdil ‘Aziz : Bisyr bin Al-Hakam serta anaknya Abdurrahman, Ish&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;q bin Abi Isr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;il, Zaid bin Mub&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rak Ash-Shon’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dan selain mereka”. Dinukil dengan sedikit perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya berkata : Riwayat Ish&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;q bin Abi Isr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;il dikeluarkan oleh Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim 1/628 no.1234 dan Ibnu Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Targhib Wa At-Tarhib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/39. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Komentar para ulama tentang Musa bin ‘Abdil ‘Aziz&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berkata Ibnu Ma’in tentangnya : &lt;i&gt;Laa Araa bihi ba’san&lt;/i&gt; (dalam pandangan saya dia tidak apa-apa). Dan berkata An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i : &lt;i&gt;Laa ba’sa bihi&lt;/i&gt; (tidak mengapa dengannya). Dan Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n menyebutkan di dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ats-Tsiq&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;t &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan dia berkata : &lt;i&gt;Rubbamaa akhto’ &lt;/i&gt;(kadang-kadang bersalah). Dan berkata Ibnu Al-Madiny : &lt;i&gt;Dho’if &lt;/i&gt;(lemah). Dan berkata As-Sulaim&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny : &lt;i&gt;Mungkarul hadits &lt;/i&gt;(mungkar haditsnya). Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Tahdzib At-Tahdzib.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Imam Muslim bin Al-Hajj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j berkata : “Saya tidak melihat sanad hadits yang lebih baik dari hadits ini”. Diriwayatkan oleh Al-Khalily dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Irsy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/327 dan Al Baihaqy dan selain keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yang nampak dari komentar para ulama di atas bahwasanya hadits dia itu tidaklah turun dari derajat hasan. Wallahu A’lam. Maka karena itulah kedudukan hadits ini adalah hasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Catatan Penting :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada riwayat dari jalan Muhammad bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Al-Hakam bin Ab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dia berkata : “Menceritakan kepada saya ayahku dari ‘Ikrimah bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bersabda … kemudian dia menyebutkan haditsnya secara &lt;i&gt;mursal&lt;/i&gt; (seorang tabi’i meriwayatkan langsung dari Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; sedangkan ia tidak mendengar darinya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;shohih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/224, Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim 1/628, Al-Baihaqy 3/53 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syu’abul &lt;u&gt;I&lt;/u&gt;m&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 125 no.3080 dan Al-Baghawy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarh As-Sunnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 4/156-157 no.1018. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya berkata : Riwayat ini tidaklah membahayakan riwayat Musa bin ‘Abdil ‘Aziz karena komentar para ulama terhadap Ibrahim bin Hakam sangat keras dan yang nampak bagi yang memperhatikan komentar para ulama tersebut bahwasanya dia adalah dho’if, tidak dipakai sebagai pendukung. Terlebih lagi telah terdapat riwayat-riwayat yang mungkar dalam riwayat bapaknya dari jalannya (Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Al-Hakam).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berangkat dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa penyelisihan yang dilakukan oleh Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Al-Hakam yang meriwayatkan secara &lt;i&gt;mursal&lt;/i&gt; kemudian menyelisihi riwayat Musa bin ‘Abdil ‘Aziz yang meriwayatkan secara &lt;i&gt;maushul &lt;/i&gt;(bersambung) tidaklah berpengaruh. Bersamaan dengan itu Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Al-Hakam telah guncang dalam riwayatnya karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kadang-kadang dia meriwayatkan secara &lt;i&gt;mursal&lt;/i&gt; sebagaimana dalam riwayat Muhammad bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ ini dan kadang-kadang dia meriwayatkannya secara &lt;i&gt;maushul&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagaimana dalam riwayat Ish&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;q bin R&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;haway dikeluarkan oleh H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim 1/628 no.1235 dan Baihaqy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syu’abul &lt;u&gt;I&lt;/u&gt;m&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 125-126 no.3080. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan dari sini diketahui bahwasanya tidak perlu bagi Imam Al-Baihaqy untuk berkata : “Yang benar adalah riwayat secara &lt;i&gt;mursal&lt;/i&gt;” dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syu’abul &lt;u&gt;I&lt;/u&gt;m&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/126, karena perselisihan riwayat yang berasal dari Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Al-Hakam ini menunjukkan keguncangan dalam riwayatnya sehingga semakin jelas menunjukkan lemahnya orang ini. Demikian kaidah para ulama menanggapi rawi yang seperti ini, sebagaimana yang tersebut dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarh ‘Ilal At-Tirmidzy &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;oleh Ibnu Rajab dan yang lainnya. &lt;i&gt;Wallahu A’lam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua : Dari jalan ‘Abdul Qudd&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;s bin Hab&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;b&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;/span&gt;dari Muj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hid dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bersabda kepadanya … Kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dikeluarkan oleh : Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Al-Ausath &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;3/14-15 no.2318 dan Abu Nuaim dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Al-Hilyah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;1/25-26. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar : “Abdul Quddus sangat lemah dan dinyatakan berdusta oleh sebagian para Imam”. Baca &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t Ar-Rabb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;niyah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;4/311 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Mashn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2/40 dan lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Miz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketiga : Dari jalan Nafi’ bin Hurmuz Abu Hurmuz dari Atho’ dari Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s. Dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 11/130 no.11365.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Masnu’ah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/39-40 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Rawi-rawinya terpercaya kecuali Abu Hurmuz, &lt;i&gt;matrukul hadits&lt;/i&gt; (dia ditinggalkan haditsnya). Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Miz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Keempat : Dari jalan Yahya bin ‘Uqbah bin Abi Al-‘Aiz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r, dari Muhammad bin Jah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dah dari Abi Al-Jauz&lt;u&gt;a’&lt;/u&gt; dari Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dikeluarkan oleh Ath-Thabar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ausath &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;3/187 no. 2879. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz : “Semua rawinya terpercaya kecuali Yahya bin ‘Uqbah, dia &lt;i&gt;matr&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;k &lt;/i&gt;(haditsnya ditinggalkan)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Saya berkata : Bahkan Ibnu Ma’in berkata : &lt;i&gt;Kadzdz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bun Khab&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;ts&lt;/i&gt; (pendusta yang sangat hina). Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Miz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul I’tid&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Hadits Abu Rofi’, maul&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dikeluarkan oleh Ibnu M&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;jah 2/157-159 no.1386, dan Tirmidzi 2/350-351 no.482 dan Abu Bakar bin Abi Syaibah sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ajwibah Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar ‘Ala Ah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dits Al Mash&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;b&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/1781 dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;Misyakatul Mash&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;bih &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ruqthny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/38 dan Ibnul Jauzy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Maudhu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/144 dan Abu Nu’aim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Qurban Al-Muttaqin &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i Al-Masn&lt;u&gt;u’&lt;/u&gt;ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/41.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Semuanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari jalan Zaid bin Al-Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n Al-‘Uqly dari Musa bin ‘Ab&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;dah dari Sa’id bin Abi Sa’id maula Abu Bakr bin ‘Amr bin Hazm dari Abu R&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;fi’ dia berkata : Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bersabda kepada Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s … kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya berkata : Dalam sanadnya ada dua cacat :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0mm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Musa bin ‘Ab&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;dah yaitu Ar-Rab&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dzy      Al-Madany. Yang nampak bagi saya setelah membaca komentar para ulama      tentangnya ia adalah rowi yang &lt;i&gt;dho’if&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bisa dipakai sebagai pendukung      apalagi dalam hadits-hadits &lt;i&gt;Ar-Riq&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;q&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sa’id bin Abi Sa’id &lt;i&gt;majhulul      h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l &lt;/i&gt;(tidak diketahui keadaannya). &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka hadits ini adalah syahid (pendukung) yang sangat kuat. &lt;span style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Hadits Al Ansh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dikeluarkan oleh Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud 2/48 no.1299 dan Al Baihaqy 2/52 dari Abu Taubah Ar-Rob&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;’ bin N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Muhammad bin Muh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;jir dari Urwah bin Ruwaim dia berkata : “Menceritakan kepada saya Al-Ansh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry bahwasanya Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; bersabda kepada Ja’far …” kemudian dia menyebutkan hadits tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya berkata : Para ‘ulama berbeda pendapat tentang siapa Al Anshori ini tapi menurut penilaian saya, tidak ada dalil yang benar yang menjelaskan siapa Al Anshory ini kemudian mungkin ia seorang sahabat dan mungkin juga bukan. Wallahu A’lam.&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Hadits Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s bin ‘Abdul Muththolib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dikeluarkan oleh Ibnu Al-Jauzy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Maudhu’at&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/143 dan Abu Nua’im , Ibnu Syahin dan Daruquthny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Afr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/40.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Semuanya dari jalan Musa bin A’yan dari Abu Raja’ dari Shodaqah dari ‘Urwah bin Ruwaim dari Ibnu Ad-Dailamy dari Al-‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s dia berkata bersabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; … kemudian dia menyebutkan haditsnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz tentang Shodaqoh : “Dia adalah Ibnu ‘Abdillah yang dikenal dengan panggilan &lt;i&gt;As-Samin&lt;/i&gt;, dia lemah dari sisi hafalannya akan tetapi dikatakan &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) oleh banyak ulama, maka haditsnya bisa digunakan sebagai pendukung”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka dari sini diketahui salahnya sangkaan Ibnul Jauzy yang mengatakan dia adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Al-Khur&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Adapun Abu Roja’ dia adalah ‘Abdullah bin Muhriz Al-Jazary. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kami tidak menemukan biografinya. Wallahu A’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan Ibnu Ad-Dailamy dia adalah ‘Abdullah bin Fairuz &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) termasuk dari tabi’in besar bahkan sebagian ulama menggolongkannya sebagai sahabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hadits ini mempunyai jalan lain, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Ibr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;him bin Ahmad Al-Hirqy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Faw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’id&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya. Akan tetapi di dalam sanad jalan tersebut ada Hamm&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d bin ‘Amr An-Nash&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;by yang para ulama menganggap dia sebag&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ai &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: verdana;"&gt;kadzdz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b (pendusta) Lihat &lt;/i&gt;&lt;b style="font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Al-Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i Al-Masn&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 2/40.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;Bersambung ke &lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shalat-tasbih-bag-ii.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bagian II&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-8894411899731190337?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/8894411899731190337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shakat-tasbih-bag-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8894411899731190337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8894411899731190337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/12/derajat-hadits-shakat-tasbih-bag-i.html' title='Derajat Hadits Shakat Tasbih (Bag. I)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-3501450939287946351</id><published>2008-11-23T08:53:00.000+07:00</published><updated>2008-11-23T09:00:22.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud (Bag. II)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;Oleh : Ust. Abu Muhammad Dzulqarnain&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertanyaan No. 1 : &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Terlihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. Mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya?.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Jawab :&amp;nbsp; (sambungan dari&lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/menggerakkan-jari-telunjuk-ketika.html"&gt; Bag. I&lt;/a&gt;)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;HADITS YANG KEDUA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَيُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ وَلاَ يُحَرِّكُهَا وَيَقُوْلُ إِنَّهَا مُذِبَّةُ الشَّيْطَانِ وَيَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;صَلَّى اللهُ عََلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; mengerjakannya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ats-Tsiq&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;t&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 7/448 dari jalan Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;b&gt;Derajat Hadits&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Seluruh rawi sanad Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) kecuali Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin Zaid. Para ulama ahli jarh dan ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. Ibnu Hajar berkata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;: &lt;i&gt;shod&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;q yukhti`u kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;ran&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (jujur tapi sangat banyak bersalah), makna kalimat ini Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r adalah &lt;i&gt;dho’if&lt;/i&gt; tapi bisa dijadikan sebagai pendukung atau penguat. Ini &lt;i&gt;‘illat&lt;/i&gt; (cacat) yang pertama. &lt;i&gt;Illat&lt;/i&gt; yang kedua ternyata Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin Zaid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Dalam riwayatnya Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam dari N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ibnu ‘Umar. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata, sebab tujuh rawi &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ibnu ‘Umar, akan tetapi dari ‘Ali bin ‘Abdirrahman Al-Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wy dari Ibnu ‘Umar. Tujuh rawi tersebut adalah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Imam Malik, riwayat beliau dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Muwaththo’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/88, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih Muslim &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/408, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan Abi D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.987, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/36 no.1287, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ihs&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.193, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/243, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan Al-Baihaqy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/130 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarh As-Sunnah Al-Baghawy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/175-176 no.675.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ism&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’il bin Ja’far bin Abi Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 2/236 no.1160, Ibnu Khuzaimah 1/359 no.719, Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n no.1938, Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah 2/243 dan 246 dan Al-Baihaqy 2/132.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;3. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sufy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712, Al-Humaidy 2/287 no.648, Ibnu Abdil Bar 131/26.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Yahya bin Sa’&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d Al-Ansh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ry, riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 3/36 no.1266 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/375 no.1189, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;5. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Wuhaib bin Kh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah 2/243.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;6. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Abdul ‘Az&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;z bin Muhammad Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rawardy, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/287 no.648.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;7. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Syu’bah bin Hajj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j, baca riwayatnya dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;‘Ilal Ibnu Abi Hatim &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/108 no.292.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Dalam riwayatnya Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin Zaid menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 14.15pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dalam riwayat Ayy&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;b As-Sikhtiany : ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Umary dari N&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fi’ dari Ibnu ‘Umar juga tidak disebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;. Baca riwayat mereka dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih Muslim &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;no.580, At-Tirmidzy no.294, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 3/37 no.1269, Ibnu M&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;jah 1/295 no.913, Ibnu Khuzaimah 1/355 no.717, Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah 2/245 no.245, Al-Baihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarh As-Sunnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/174-175 no.673-674 dan Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.635.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits &lt;i&gt;Mungkar&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Wallahu A’lam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kesimpulan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;b&gt;Seluruh hadits yang menerangkan jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah.&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits-Hadits Yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sepanjang pemeriksaan kami, hanya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan yaitu hadits Wa`il bin Hujr dan lafadznya sebagai berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="DE" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهِِ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="DE" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent.), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318, Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rimy 1/362 no.1357, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 2/126 no.889 dan 3/37 no.1268 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/310 no.963 dan 1/376 no.1191, Ibnul Jarud dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Muntaqa’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.208, Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ihs&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 5/170 no.1860 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Maw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.485, Ibnu Khuzaimah 1/354 no.714, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/35 no.82, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghd&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/425-427. Semuanya meriwayatkan dari jalan &lt;i&gt;Za`idah&lt;/i&gt; bin Qud&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mah dari ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;shim bin Kulaib bin Syih&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Derajat Hadits&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Zhohir sanad hadits ini adalah hasan, tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari &lt;i&gt;‘illat&lt;/i&gt; (cacat) dan &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt; dan penjelasannya adalah bahwa : Z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`idah bin Qudamah adalah seorang rawi &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; yang kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`idah sehingga apabila Z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Z&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`idah. Semuanya meriwayatkan dari ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;shim bin Kulaib bin Syih&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b dari ayahnya dari &lt;i&gt;Wa`il bin Hujr&lt;/i&gt;. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dua puluh dua rawi tersebut adalah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Bisyr bin Al-Mufadhdhal, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud 1/465 no.726 dan 1/578 no.957 dan An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 3/35 no.1265 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/374 no.1188 dan Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/37 no.86.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Syu’bah bin Hajj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316 dan 319, Ibnu Khuzaimah dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shohih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 1/345 no.697 dan 1/346 no.689, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/35 no.83 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; n0.637 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/430-431.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sufy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n Ats-Tsaury, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 3/35 no.1264 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/374 no.1187 dan Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/23 no.78.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sufy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin ‘Uyyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 2/236 no.1195 dan 3/34 no.1263 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/374 no.1186, Al-Humaidy 2/392 no.885 dan Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny 1/290, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/36 no.85 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/427.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Abdullah bin Idris, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu M&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;jah 1/295 no.912, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Ibnu Khuzaimah 1/353 dan Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n no.1936.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Abdul W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hid bin Ziy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316, Al-Baihaqy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/72 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/434.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Zuhair bin Mu’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wiyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/26 no.84 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.637 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/437.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lid bin ‘Abdillah Ath-Thahh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thoh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarah Ma’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny Al-&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;ts&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/259, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/432-433.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Muhammad bin Fudhail, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/353 no.713.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sall&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m bin Sulaim, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thoy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lisi dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya no.1020, Ath-Thoh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;wy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarah Ma’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny Al-&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;ts&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/259, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/34 no.80 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/431-432.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/38 no.90 dan Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/432.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ghail&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin J&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mi’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/37 no.88.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Qois bin Rabi’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/33 no.79.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Musa bin Abi Kats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/37 no.89.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Ambasah bin Sa’id Al-Asady, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny 22/37 no.87.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Musa bin Abi ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;isyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.637.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Khall&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d Ash-Shaff&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no. 637.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Jar&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin ‘Abdul Ham&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/435.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Ab&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;dah bin Humaid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/435-436.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sholeh bin ‘Umar, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/433.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Abdul ‘Az&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;z bin Muslim, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/436-437.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Abu Badr Syuj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’ bin Al-Wal&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fashl Li Washil Mudraj &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/438-439.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dari uraian di atas jelaslah bahwa riwayat &lt;i&gt;Za`idah&lt;/i&gt; bin Qud&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mah yang menyebutkan lafadz &lt;i&gt;Yuha&lt;u&gt;r&lt;/u&gt;ikuh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; (digerak-gerakkan) adalah &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kesimpulan : &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Penyebutan lafazh &lt;i&gt;yuharrikuha&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Wallahu A’lam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pendapat Para Ulama Dalam Masalah Ini&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ketiga :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -&lt;i&gt;rahimahullahu ta’ala&lt;/i&gt;- dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarah Zaad Al-Mustaqni’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Dan Syaikh Al-Albany -&lt;i&gt;rahimahullahu ta’ala&lt;/i&gt;- dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tam&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mul Minnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya, ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Namun dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah. Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut, apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau. Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(Arab) yang artinya berisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak. Penjelasannya adalah bahwa kata “berosyarat” itu mempunyai dua kemungkinan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Dengan digerak-gerakkan. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk, maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih Al-Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih Al-Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan &lt;i&gt;Ash-Shol&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tu Tauqifiyah&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;sholat itu adalah tauqifiyah) maksudnya tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk, asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan Imam Muslim No.538 :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 align="center" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;إِنَّ فِي الصَّلاَةِ شُغْلاً&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; yang shohih.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kesimpulan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak digerak-gerakkan. Wallahu A’lam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lihat pembahasan di atas dalam :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu’ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Muhall&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Ibnu Hazm 4/151, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Subulus Salam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/189, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nailul Auth&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;‘Aunul Ma’b&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/196, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tuhfah Al-Ahwadzy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/160.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Madzhab Hanafiyah lihat dalam : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kif&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;yah Ath-Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;lib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/357.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Madzhab Malikiyah : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ats-Tsamar Ad D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/127, &lt;b&gt;&lt;i&gt;H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;syiah Al-Adawy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/356, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Faw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kih Ad-Daw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/192.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Madzhab Syafiiyyah dalam : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Hilyah Al-Ulama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/105, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Raudhah Ath-Th&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;libin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/262, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/416-417, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Iqn&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/145, &lt;b&gt;&lt;i&gt;H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;syiah Al-Bujairamy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/218, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mughny Al-Muht&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/173.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Madzhab Hambaliyah lihat dalam :&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Mubdi’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/162, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Fur&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/386, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Insh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;f&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 2/76, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kasyful Qon&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/356-357.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-3501450939287946351?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/3501450939287946351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/menggerakkan-jari-telunjuk-ketika_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3501450939287946351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/3501450939287946351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/menggerakkan-jari-telunjuk-ketika_23.html' title='Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud (Bag. II)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-7423508556100333641</id><published>2008-11-23T08:48:00.000+07:00</published><updated>2008-11-23T08:53:38.381+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Menggerakkan  Jari  Telunjuk Ketika Tasyahud (Bag. I)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;Oleh : Ust. Abu Muhammad Dzulqarnain&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan No. 1 :&lt;/b&gt; &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Terlihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. Mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya?.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu hal yang perlu dibahas secara ilmiah. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingga kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan perkara yang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah &lt;i&gt;furu’ &lt;/i&gt;belaka, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Syarah Al-Muhadzdzab&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Imam An-Nawawy, kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Mughny&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Imam Ibnu Qud&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mah, kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ausath&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Ibnul Mundzir, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ikhtil&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ful Ulama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan menemukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah, muamalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecahan maupun permusuhan diantara mereka. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya, rincian masalahnya adalah sebagai berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;i.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;ii.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;iii.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakannnya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut, karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry, Imam Muslim dan lain-lainnya, dari beberapa orang sahabat seperti ‘Abdullah bin Zubair, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhammad As-S&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’idy, Wa`il bin Hujr, Sa’ad bin Abi Waqq&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;sh dan lain-lainnya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka yang perlu dibahas disini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat hadits yang kedua (digerak-gerakkan).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits-Hadits Yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sepanjang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoHeading9"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;HADITS PERTAMA&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: normal; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; text-decoration: none;"&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;كَانَ يُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ إِذَا دَعَا وَلاَ يُحَرِّكُهَا&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Sesungguhnya Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;-nya no.989, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Mujtaba&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/37 no.127, Ath-Thobar&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ad-Du’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.638, Al-Baghawy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syarh As-Sunnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 3/177-178 no.676. Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dari ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;mir bin ‘Abdillah bin Zubair dari ayahnya ‘Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebutkan hadits di atas.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini Sebagai Berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Hajj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j bin Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Beliau rawi &lt;i&gt;tsiqoh&lt;/i&gt; (terpercaya) yang &lt;i&gt;tsabt&lt;/i&gt; (kuat) akan tetapi &lt;i&gt;mukhtalit&lt;/i&gt; (bercampur) hafalannya diakhir umurnya, akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Baca : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kaw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kib An-Nayyir&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;t&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;T&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rikh Baghd&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan lain-lainnya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ibnu Juraij.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Nama beliau ‘Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz bin Juraij Al-Makky seorang rawi &lt;i&gt;tsiqoh &lt;/i&gt;tapi &lt;i&gt;mudallis &lt;/i&gt;akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata &lt;i&gt;A&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;khbarani&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(memberitakan kepadaku).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Seorang rawi &lt;i&gt;shoduq&lt;/i&gt; (jujur).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;mir bin ‘Abdillah bin Zubair.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Kata Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fidz dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Taqrib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; beliau adalah &lt;i&gt;tsiqoh ‘abid&lt;/i&gt; (terpercaya, ahli ibadah).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Abdullah bin Zubair.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; Sahabat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Derajat Hadits&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal tersebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari &lt;i&gt;‘Illat&lt;/i&gt; (cacat) dan tidak &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;. Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;ini adalah lafadz yang &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sebelum kami jelaskan dari mana sisi &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;nya lafadz ini, mungkin perlu kami jelaskan apa makna &lt;i&gt;syadz &lt;/i&gt;menurut istilah para Ahlul Hadits. &lt;i&gt;Syadz&lt;/i&gt; menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama : &lt;i&gt;Syadz&lt;/i&gt; karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayatan karena beberapa faktor.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;¤&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua : &lt;i&gt;Syadz&lt;/i&gt; karena menyelisihi.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Dan pengertian &lt;i&gt;syadz &lt;/i&gt;dalam bentuk kedua adalah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;رِوَايَةُ الْمَقْبُوْلِ مُخَالِفًا لِمَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utama darinya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maksud &lt;i&gt;“rawi maqbul” &lt;/i&gt;adalah rawi derajat &lt;i&gt;shohih &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;hasan&lt;/i&gt;. Dan maksud &lt;i&gt;“rawi yang lebih utama” &lt;/i&gt;adalah utama dari sisi kekuatan hafalan, riwayat atau dari sisi jumlah. Dan perlu diketahui bahwa &lt;i&gt;syadz &lt;/i&gt;merupakan salah satu jenis hadits &lt;i&gt;dho’if &lt;/i&gt;(lemah) dikalangan para ulama Ahli Hadits.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 10mm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka kami melihat bahwa lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; adalah lafadz yang &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt; tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n karena beberapa perkara :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 2.55pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;1. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n walaupun ia seorang rawi &lt;i&gt;hasanul hadits &lt;/i&gt;(hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 2.55pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;2. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Riwayat Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm 2.55pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;3. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dan mereka tidak menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;. Empat rawi tsiqoh tersebut adalah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Al-Laits bin Sa’ad, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133 dan Al-Baihaqy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/131.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Abu Kh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lid Al-Ahmar, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Abu Ahmad Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syi’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r Ash&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bul Hadits&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; hal.62, Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ihs&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;5/370 no.1943, Ibnu Abdil Bar dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Tamhid &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;13/194, Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;raquthny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sunan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 1/349, dan Al-Baihaqy 2/131, ‘Abd bin Humaid no.99.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Yahya bin Sa’id Al-Qothth&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;n, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud no.990, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 3/39 no.1275 dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;1/377 no.1198, Ahmad 4/3, Ibnu Khuzaimah 1/350 no.718, Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n no.1935, Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sufy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rimy no.1338 dan Al-Humaidy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/386 no.879.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm -4.55pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Demikianlah riwayat empat rawi &lt;i&gt;tsiqoh &lt;/i&gt;tersebut menetapkan bahwa riwayat sebenarnya dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n tanpa penyebutan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; akan tetapi Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dalam riwayat Ziy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d bin Sa’ad keliru lalu menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm -4.55pt 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;4. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;mir bin ‘Abdullah bin Zubair sebagaimana Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n juga meriwayatkan dari ‘&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;mir ini akan tetapi tiga orang rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;, maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n yang menyebutkan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; telah menyelisihi tiga rawi &lt;i&gt;tsiqoh &lt;/i&gt;tersebut, oleh karenanya riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n dianggap &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt; karena menyelisihi tiga orang tersebut. Tiga orang ini adalah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm -4.55pt 0.0001pt 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;‘Utsm&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n bin Hak&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;m, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no.112, Abu D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ud no.988, Ibnu Khuzaimah 1/245 no.696, Ibnu Abdil Bar dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;At-Tamh&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 13/194-195 dan Abu ‘Aw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nah 2/241 dan 246.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm -4.55pt 0.0001pt 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ziy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d bin Sa’ad, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.879.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0mm -4.55pt 0.0001pt 10mm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makhromah bin Bukair, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i 2/237 no.1161 dan Al-Baihaqy 2/132.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;laa yuharrikuha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (tidak digerak-gerakkan)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; dalam hadits ‘Abdullah bin Zubair adalah &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt; dan yang menyebabkan &lt;i&gt;syadz&lt;/i&gt;nya adalah Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal dari Ziy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;d bin Sa’ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang tersebut di atas sangat kuat menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bin ‘Ajl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n. Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(Bersambung ke Bag. II)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sumber: Majalah &lt;a href="http://www.an-nashihah.com/"&gt;&lt;b&gt;An-Nashihah&lt;/b&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-7423508556100333641?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/7423508556100333641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/menggerakkan-jari-telunjuk-ketika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7423508556100333641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/7423508556100333641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/menggerakkan-jari-telunjuk-ketika.html' title='Menggerakkan  Jari  Telunjuk Ketika Tasyahud (Bag. I)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-5426972200644819429</id><published>2008-11-23T08:30:00.000+07:00</published><updated>2008-11-23T08:34:02.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>MAKNA لا إله إلا الله (Bag. II)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: magenta; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Oleh : Ust. Abu ‘Abdirrahman Luqman Jamal, LC&lt;/span&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertanyaan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Banyak penafsiran yang muncul di tengah masyarakat tentang makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah. A&lt;/i&gt;da yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan inilah yang paling sering didapati dan dijumpai, tapi timbul pertanyaan dan kebingungan dalam benak banyak orang, kalau itu adalah makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; maka orang-orang Yahudi dan Nashoro serta orang kafir yang lainnya juga mengatakan seperti itu, dan ada juga yang mengatakan bahwa maknanya tidak ada yang ada kecuali Allah dan berbagai makna dan penafsiran yang lainnya. Mohon penjelasan disertai dengan dalil-dalil?&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Jawab: (Sambungan dari &lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna.html"&gt;Bagian I)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin-left: 14.2pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna Laa Ilaaha Illallah menurut para ulama salaf&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ifsh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; : “Isim “Allah” sesudah “&lt;i&gt;illa&lt;/i&gt;” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)… hendaknya kamu tahu bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada th&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;gh&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;t dan beriman kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan ditetapkan kewajiban penyembahan itu kepada Allah &lt;i&gt;subhanahu&lt;/i&gt; maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Imam Az-Zamakhsyary : “&lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;termasuk nama-nama jenis seperti &lt;i&gt;Ar-Rajul &lt;/i&gt;(seorang lelaki) dan &lt;i&gt;Al Faras &lt;/i&gt;(seekor kuda), penggunaan kata &lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;pada segala yang disembah yang hak maupun yang batil. Kemudian kata &lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;itu umum digunakan kepada yang disembah yang benar”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Imam Ibnul Qayyim : “&lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;adalah yang Dialah yang disembah oleh hati-hati (manusia) dengan penuh kecintaan, pengagungan, kembali padanya, pemuliaan, pengagungan, penghinaan diri, rasa tunduk, rasa takut, harapan dan tawakkal (pada-Nya).”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Imam Ibnu Rajab : “&lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt;. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Al-Imam Al-Baq&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;`i : “&lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya &lt;i&gt;Laa Ilaahaa Illallah &lt;/i&gt;adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh : “Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan &lt;i&gt;‘ijma &lt;/i&gt;(kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”. Wallahu A’lam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Fathul Maj&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;hal.53-54 cet. D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rul Fikr.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah &lt;/i&gt;mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut : &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Pertama : &lt;i&gt;An-Nafyu &lt;/i&gt;(penafian) yang terkandung dalam kalimat &lt;i&gt;Laa Ilaaha.&lt;/i&gt; Yaitu menafikan seluruh yang disembah apapun jenisnya dan bentuknya dari makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati walaupun malaikat yang dekat dengan Allah bahkan Rasul yang diutus sekalipun.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kedua : &lt;i&gt;Al-Itsb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;t &lt;/i&gt;(penetapan) yang terkandung dalam kalimat &lt;i&gt;Illallah&lt;/i&gt;. Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya dan perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan s&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana seperti orang yang meyakini Allah itu berhak disembah tetapi juga menyambah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah. Dan dua rukun ini banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an dan itulah inti dari semua dakwah Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; di antaranya :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. Al-Anbiy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;` : 21/25).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h5 dir="rtl" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 2.5pt;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada th&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;g&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;t dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. Al-Baqarah : 2/256).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kalimat yang agung &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Laa Ilaaha Illallah“ &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;tidaklah bermanfaat untuk orang yang mengucapkannya, tidak bisa mengeluarkan dia dari lingkaran kesyirikan, kecuali jika ia mengerti artinya, mengamalkannya serta mempercayainya. Sungguh orang-orang munafiq mengucapkannya, tapi (meskipun demikian ) mereka berada dilapisan terbawah dari neraka karena mereka tidak beriman dengannya dan tidak pula mengamalkannya. Demikian pula yahudi mereka mengucapkannya tapi mereka adalah manusia yang kafir karena tidak mengimaninya . demikian pula para penyembah kuburan dan para wali dari orang-orang kafir ummat ini, mereka mengucapkannya akan tetapi mereka menyalahinya dengan ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan dan aqidah mereka yang menyimpang. Kalimat Laa Ilaaha Illallaah tidak bermanfaat buat mereka dan tidak menjadikan mereka orang-orang islam karena mereka menyalahinya dengan ucapan, perbuatan dan keyakinan mereka . sebagian ulama menyebutkan syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah ada 8, yaitu : Ilmu, keyakinan, ikhlash, jujur, cinta, taat terhadap kandungannya, menerima kandungannya, pengingkaran terhadap apa yang disembah selain Allah, yang tergabung dalam dua bait syair (berikut ini ) :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h5 align="center" dir="rtl" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;مَعْ مَحَبَّةِ وَاِنْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلُ لَهَا&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5 align="center" dir="rtl" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;وَزِيْدَ&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;سِوَى الإِلهِ مِنَ الأَشْيَاءِ قَدْ أُلِهَا&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ilmu, keyakinan dan ikhlash serta kejujuranmu&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;bersama cinta dan ta’at serta menerimanya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Ditambah (syarat) yang kedelapan (adalah)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;pengingkaranmu terhadap sesuatu&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;selain dari Allah yang telah disembah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="height: 16px; left: 0px; margin-left: 1px; margin-top: 4px; position: absolute; width: 10px; z-index: 251667456;"&gt;&lt;img height="16" src="file:///C:/DOCUME%7E1/NisaAbdo/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image003.gif" v:shapes="_x0000_s1026" width="10" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna-makna yang salah dari makna Laa Ilaaha Illallah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tidak ada yang ada kecuali Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna ini kalau diperhatikan maka akan didapati kesalahan pada beberapa sisi. Di antaranya, mereka mengartikan ilah di sini sebagai “yang ada”, sementara yang benar adalah yang “diibadahi”, dan juga makna ini menunjukkan bahwa semua yang ada adalah Allah maka ini adalah kebatilan yang paling batil sebab lebih kafir dan lebih musyrik dari orang-orang Yahudi dan Nashoro karena Tuhan mereka hanya dua atau tiga sementara orang-orang yang menyatakan seperti ini Tuhannya sangat banyak dan tidak terbatas padahal masih menganggap dirinya orang Islam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dan yang lebih mengherankan lagi adalah ada di antara pemimpin pergerakan Islam yang mengartikan seperti ini, bagaimana nasibnya Islam dan kaum muslimin, kalau yang dianggap pemimpin dalam memahami makna kalimat &lt;i&gt;Laa ilaaha illallah &lt;/i&gt;saja keliru padahal kalimat ini yang merupakan asas iman dan asas dakwah maka betapa banyak orang yang tersesat karenanya. Perlu diketahui bahwa makna sesat ini telah dinyatakan oleh para Alhu bid’ah sejak ratusan tahun yang lalu dan &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt; para ulama telah menjelaskan hal ini dalam kitab-kitab mereka. Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kitabul Istigh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;tsah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang dikarang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tidak ada pencipta kecuali Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna ini kalau kita perhatikan maka maknanya benar tetapi bukan makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt;. Sebab &lt;i&gt;ilah &lt;/i&gt;maknanya&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“yang diibadahi” bukan bermakna pencipta. Betapa banyak yang mengartikan seperti ini tetapi tidak mau beribadah kepada Allah sebab belum tentu orang yang meyakini hal ini beribadah kepada Allah saja seperti orang-orang musyrik, orang-orang kafir, Ahlul Kitab bahkan sebagian dari kaum muslimin sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman : 25&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h5 dir="rtl" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 2.5pt;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلّ‍‍َهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" lang="EN-GB" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah”. Katakanlah : “Segala puji bagi Allah” ; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. Luqman : 31/25).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Demikianlah kaum musyrikin mengetahui hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi. Tapi bersamaan dengan itu mereka belum dianggap sebagai seorang muslim bahkan terus menerus mereka diperangi oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tidak ada hakim kecuali Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kalimat ini juga maknanya benar, tapi bukan makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; .Sebab &lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt; sebagaimana yang terdahulu bukan bermakna hakim tetapi maknanya yang diibadahi. Dan makna ini sering dilontarkan oleh orang-orang yang mau menegakkan syariat Islam (menurut mereka) dan mengkafirkan secara mutlak orang-orang yang menurut mereka tidak mau berhukum dengan hukum Allah .&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sedangkan hukum Allah yang paling agung adalah tauhid lalu bagaimana dengan orang-orang yang ingin menegakkan hukum Allah atau syariat Islam sementara perkara yang paling pokok tidak diperhatikan bahkan kadang disepelekan dan menganggap orang-orang yang mendakwahkan dakwah tauhid adalah pemecah belah umat, tidak tahu keadaan, kuno dan berbagai macam julukan yang lain. Wallahul Musta’an.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lihat kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Makna Laa Ilaaha Illallah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang dikarang oleh Syaikh Sholeh Al-Fauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tidak ada yang disembah yang ada kecuali Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt; &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna dan tafsiran ini umumnya dikemukakan oleh sebagian ahli bahasa (dalam kitab-kitab bahasa) yang tidak memahami secara benar makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt;. Mereka mendahulukan sisi bahasa semata-mata tanpa memperdulikan sisi syariatnya. Makna ini muncul karena mereka mentakdirkan &lt;i&gt;khobar &lt;/i&gt;yang dibuang &lt;b&gt;&lt;i&gt;maujud&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;&lt;i&gt;k&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;inun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang berarti ada, padahal takdir yang benar adalah &lt;b&gt;&lt;i&gt;haqqun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagaimana penjelasan sebelumnya. Kemudian dari sisi yang lain, tafsiran ini salah karena kenyataannya ada orang-orang di dunia ini yang menyembah sesembahan lain selain Allah seperti sapi, jin, patung-patung dan lain-lain. Maka tidaklah benar kalau dikatakan yang disembah manusia hanyalah Allah saja. Karena banyak sesembahan yang lain bahkan tak terbatas. Tetapi kita mengatakan tidak ada sesembahan yang benar (haqqun) yang disembah oleh manusia kecuali Allah saja. Artinya penyembahan orang-orang kepada sesembahan-sesembahan yang lain selain Allah adalah tidak benar/batil.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Tidak ada yang mampu untuk mengadakan sesuatu kecuali Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna ini umumnya dimaknakan oleh orang-orang sufi, filsafat dan ahlul kalam, bahkan mereka menyangka itulah puncak tauhid. Makna ini benar dari sisi makna, tetapi kalau &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; dimaknakan seperti itu tidaklah benar karena il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h bukan maknanya yang mampu untuk menciptakan yang baru tapi yang diibadahi sebagaimana penjelasan pada point nomor 2. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Mengeluarkan keyakinan yang pasti dari dzatnya segala sesuatu dan memasukkannya pada dzatnya Allah. &lt;b&gt;(ARAB)&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka tafsiran ini batil, tidak dikenal oleh para Salafus Sholeh dan bukan pula yang dimaksud dengannya untuk meyakini &lt;i&gt;‘Azza Wa Jalla &lt;/i&gt;dan mengeluarkan keyakinan dari selainNya karena sesungguhnya ini tidak mungkin karena sesungguhnya keyakinan itu &lt;i&gt;ts&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bit&lt;/i&gt; (tetap) pada selain Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;, sebagaimana firman Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; dalam surah At-Tak&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tsur ayat 6-7 :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoHeading7" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-left: 0mm; text-align: justify; text-indent: 0mm; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="color: windowtext; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin-right: 14.2pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. At-Tak&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tsur : 102/6-7).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka meyakini sesuatu yang terjadi dan menjadi kenyataan yang diketahui tidaklah menafikan tauhid.&lt;i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dan masih banyak makna yang salah tetapi yang banyak dan menyebar adalah makna-makna yang di atas dan umumnya makna-makna tersebut kembali kepada enam makna di atas. Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-5426972200644819429?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/5426972200644819429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna-bag-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5426972200644819429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/5426972200644819429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna-bag-ii.html' title='MAKNA لا إله إلا الله (Bag. II)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-8964685945350491298</id><published>2008-11-23T08:22:00.005+07:00</published><updated>2008-11-23T08:43:53.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>MAKNA لا إله إلا الله (Bag. I)</title><content type='html'>&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Oleh : Ust. Abu ‘Abdirrahman Luqman Jamal, LC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan :&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Banyak penafsiran yang muncul di tengah masyarakat tentang makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah. A&lt;/i&gt;da yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan inilah yang paling sering didapati dan dijumpai, tapi timbul pertanyaan dan kebingungan dalam benak banyak orang, kalau itu adalah makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; maka orang-orang Yahudi dan Nashoro serta orang kafir yang lainnya juga mengatakan seperti itu, dan ada juga yang mengatakan bahwa maknanya tidak ada yang ada kecuali Allah dan berbagai makna dan penafsiran yang lainnya. Mohon penjelasan disertai dengan dalil-dalil?&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tidak ada keraguan bahwa kalimat tauhid &lt;/span&gt;&lt;i style="color: black;"&gt;Laa Ilaha Illallah &lt;/i&gt;adalah kalimat yang paling agung, rukun pertama dalam Islam, penentu selamat atau meruginya seorang hamba di akhirat, dasar iman serta asas dakwah dari seluruh Nabi dan Rasul, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (yang artinya)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Th&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;g&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;t (segala yang disembah selain Allah)”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (&lt;b&gt;QS. An-Nahl : 16/36).&lt;/b&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dan kalimat inilah yang membedakan antara seorang mukmin dengan orang kafir. Oleh karena itu seorang muslim wajib mengetahui makna yang benar dari kalimat ini agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang bisa mengurangi nilai syahadatnya bahkan bisa membatalkannya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah &lt;/i&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="height: 12px; left: 0px; margin-left: 12px; margin-top: 1px; position: absolute; width: 12px; z-index: 6;"&gt;&lt;img height="12" src="file:///C:/DOCUME%7E1/NisaAbdo/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.gif" v:shapes="_x0000_s1031" width="12" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Laa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;adalah &lt;i&gt;n&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fiyah lil jins &lt;/i&gt;(Menafikan jenis secara nash) yaitu &lt;i&gt;Laa &lt;/i&gt;yang meniadakan jenis kata benda yang datang setelahnya, misalnya : &lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Laa rajula fil bait&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;(tidak ada seorang lelaki pun di dalam rumah). &lt;i&gt;Rajula &lt;/i&gt;adalah kata benda untuk jenis laki-laki, dalam contoh di atas kata &lt;i&gt;rajula &lt;/i&gt;ini terletak setelah &lt;i&gt;laa n&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;fiyah lil jins&lt;/i&gt; maka maknanya adalah “tidak ada seorang pun dari jenis laki-laki berada di dalam rumah”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="height: 12px; left: 0px; margin-left: 10px; margin-top: 1px; position: absolute; width: 12px; z-index: 7;"&gt;&lt;img height="12" src="file:///C:/DOCUME%7E1/NisaAbdo/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image005.gif" v:shapes="_x0000_s1032" width="12" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;adalah &lt;i&gt;mashdar&lt;/i&gt; (kata dasar) yang bermakna &lt;i&gt;maf’&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;l &lt;/i&gt;(obyek) yakni bermakna &lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ma`l&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;artinya &lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ma’b&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(yang diibadahi) sebagaimana penafsiran Ibnu ‘Abbas terhadap ayat 127 dalam surah Al-A’r&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;f :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 dir="rtl" style="direction: rtl; margin: 0mm 9.6pt 0.0001pt 10mm; text-align: justify; text-indent: -2.5pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَ تَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَ&amp;nbsp; قَالَ سَنُقَتِلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِيْ نِسَآءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُوْنَ&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membut kerusakan di negeri ini (Mesir) dan &lt;b&gt;meninggalkan kamu serta il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h-il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hmu&lt;/b&gt;?”, Fir’aun menjawab : ”Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. Al-A’raf : 7/127).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;lihataka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(&lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h-il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;mu) yaitu ibadah kepadamu karena Fir’aun itu disembah dan tidak mau menyembah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tafsir Ibnu Jarir&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Dan dalam syair dari Ru`bah Ibnul ‘Uj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;j&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 align="center" style="text-align: center;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;لِلَّهِ دَرُّ الغَانِيَاتِ الْمُدَّهِ&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;سَبَّحْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;وَاسْتَرْجَعْنَ مِنْ تَأَلُّهِي&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Betapa hebatnya para wanita kaya yang cerdik mereka bertasbih dan membaca &lt;i&gt;istirj&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’ &lt;/i&gt;melihat &lt;i&gt;Ta`alluhi &lt;/i&gt;(peng&lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;anku)”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sisi pendalilan dari syair ini adalah kata &lt;i&gt;Ta`alluh&lt;u&gt;i&lt;/u&gt; &lt;/i&gt;(peng&lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt;anku) yakni penyembahanku dan permintaanku kepada Allah dari amalanku.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lihat : &lt;b&gt;&lt;i&gt;Fathul Majid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; hal.19. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Illa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; (kecuali). Pengecualian disini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah &lt;i&gt;illa &lt;/i&gt;dari hukum kata yang dinafikan oleh &lt;i&gt;laa&lt;/i&gt;. Artinya bahwa hanya &lt;i&gt;lafadz&lt;/i&gt; &lt;i&gt;jal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lah &lt;/i&gt;“Allah” yang diperkecualikan dari seluruh jenis &lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt; yang telah dinafikan oleh kata &lt;i&gt;laa&lt;/i&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Allah asalnya &lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h&lt;/i&gt; dibuang hamzahnya kemudian &lt;i&gt;lam&lt;/i&gt; yang pertama di&lt;i&gt;idhgam&lt;/i&gt;kan pada &lt;i&gt;lam&lt;/i&gt; yang kedua maka menjadilah satu lam yang di&lt;i&gt;tasydid &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;lam&lt;/i&gt; yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kis&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;`i dan Imam Al-Farr&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Allah (&lt;i&gt;lafadz jal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lah&lt;/i&gt;). Kata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mad&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rij As-S&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;likin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/18 : “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan...”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 10mm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Lafadz jal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada &lt;i&gt;lafadz jal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lah&lt;/i&gt; tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Kemudian &lt;i&gt;Laa &lt;/i&gt;ini masuk ke dalam &lt;i&gt;mubtada &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;khobar&lt;/i&gt;, yaitu masuk pada jumlah &lt;i&gt;ismiah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;mubtada&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;isim &lt;b&gt;laa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;khobar mubtada&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;khobar&lt;/i&gt;nya, sedangkan pada kalimat &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/i&gt; yang ada hanya &lt;i&gt;mubtada&lt;/i&gt;nya saja yaitu &lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;yang asalnya &lt;i&gt;Al-Il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;kemudian dibuang &lt;i&gt;Al&lt;/i&gt;-nya karena seringnya dipakai sementara &lt;i&gt;khobar&lt;/i&gt;nya ternyata tidak ada, maka berarti &lt;i&gt;khobar&lt;/i&gt;nya (dibuang) maka kita perlu mencari &lt;i&gt;khobar&lt;/i&gt;nya untuk memahami maknanya dengan benar .&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka para ulama salaf mentaqdirkan bahwa yang dibuang tersebut adalah &lt;i&gt;haqqun &lt;/i&gt;dengan dalil firman Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt; dalam surah Luqman ayat 30 :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: normal; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt; text-decoration: none;"&gt;ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;“Yang demikian itu karena Allahlah yang hak dan apa saja yang mereka sembah selain Allah adalah batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(QS. Luqman : 31/30).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Sedangkan &lt;i&gt;lafadz jal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lah&lt;/i&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) hanya &lt;i&gt;badal&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;il&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;h &lt;/i&gt;bukan &lt;i&gt;khobar &lt;b&gt;laa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Maka dari penjelasan tadi maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna &lt;i&gt;Laa ilaaha illallah &lt;/i&gt;adalah tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; لا&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;إله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;إلا&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;ال&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 1;"&gt;&lt;span style="height: 102px; left: 3px; position: absolute; top: -2px; width: 662px;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" style="height: 116px; left: 11px; top: 1692px; width: 595px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="0" width="0"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="120"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="2"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="125"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="7"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="143"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="7"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="118"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="9"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td width="131"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="102"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td bgcolor="white" height="102" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 50%; border: 0.75pt solid black; vertical-align: top;" width="120"&gt;&lt;span style="left: 0pt; position: absolute; z-index: 5;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;div class="shape" style="padding: 4.35pt 7.95pt;" v:shape="_x0000_s1030"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Yang     di perkecualikan dari&amp;nbsp; hukum     sebelumnya yaitu penafian seluruh ilahi &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td bgcolor="white" height="102" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 50%; border: 0.75pt solid black; vertical-align: top;" width="125"&gt;&lt;span style="left: 0pt; position: absolute; z-index: 4;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;div class="shape" style="padding: 4.35pt 7.95pt;" v:shape="_x0000_s1029"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Huruf     pengecualian, me ngecualikan yang sesudahnya dari hukum sebelumnya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td bgcolor="white" height="102" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 50%; border: 0.75pt solid black; vertical-align: top;" width="143"&gt;&lt;span style="left: 0pt; position: absolute; z-index: 3;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;div class="shape" style="padding: 4.35pt 7.95pt;" v:shape="_x0000_s1028"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Khobar     mubtada’ yang dibuang yang berubah menjadi khobarnya Laa taqdirnya haqqun     (yang benar)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td bgcolor="white" height="102" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 50%; border: 0.75pt solid black; vertical-align: top;" width="118"&gt;&lt;span style="left: 0pt; position: absolute; z-index: 2;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;div class="shape" style="padding: 4.35pt 7.95pt;" v:shape="_x0000_s1027"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Mubtada’     yang berubah menjadi isimnya Laa artinya yang disembah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td bgcolor="white" height="102" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 50%; border: 0.75pt solid black; vertical-align: top;" width="131"&gt;&lt;span style="left: 0pt; position: absolute; z-index: 1;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;div class="shape" style="padding: 4.35pt 7.95pt;" v:shape="_x0000_s1026"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Huruf&amp;nbsp; nafi lil jins masuk pada mubtada’ dan     khobar artinya Tidak ada&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="height: 16px; margin-left: 1px; margin-top: 4px; position: absolute; width: 9px; z-index: 8;"&gt;&lt;img height="16" src="file:///C:/DOCUME%7E1/NisaAbdo/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image006.gif" v:shapes="_x0000_s1033" width="9" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;Makna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9pt;"&gt;(Bersambung ke &lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna.html"&gt;Bag. II&lt;/a&gt;) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-8964685945350491298?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/8964685945350491298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8964685945350491298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/8964685945350491298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/makna.html' title='MAKNA لا إله إلا الله (Bag. I)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-4764187117584231409</id><published>2008-11-23T08:08:00.002+07:00</published><updated>2008-11-23T08:20:08.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Ahlus Sunnah Wal Jam’ah, siapakah Mereka? (Bag. II)</title><content type='html'>&lt;span style="color: navy; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Ust. Abu Muhammad Dzulqornain&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pertanyaan No. 1 :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dewasa ini marak pengakuan dari berbagai pihak yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sehingga menyebabkan adanya kerancuan dan kebingungan dalam persepsi banyak orang tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(&lt;a href="http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/ahlus-sunnah-wal-jamah-siapakah-mereka.html"&gt;Sambungan dari tulisan sebelumnya&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kedua : Makna Ahlus Sunnah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Penjelasan makna sunnah di atas secara umum akan memberikan gambaran tentang makna Ahlus Sunnah (pengikut sunnah-ed.). &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Fat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; jilid 3 hal.375 ketika memberikan defenisi tentang Ahlus Sunnah : “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan apa-apa yang disepakati oleh orang-orang terdahulu yang pertama dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Ibnu Hazm dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Al-Fishal &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;jilid 2 hal. 281 : “Dan Ahlus Sunnah -yang kami sebutkan- adalah ahlul haq (pengikut kebenaran) dan selain mereka adalah ahlul bid’ah (pengikut perkara-perkara baru dalam agama), maka mereka (ahlus sunnah) adalah para sahabat -&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;- dan siapa saja yang menempuh jalan mereka dari orang-orang pilihan di kalangan tabi’in kemudian Ashh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bul Hadits dan siapa yang mengikuti mereka dari para ahli fiqh zaman demi zaman sampai hari kita ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dari orang awam di Timur maupun di Barat bumi -&lt;i&gt;rahmatullahi ’alaihim&lt;/i&gt;-&lt;i&gt; &lt;/i&gt;”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan Ibnul Jauzy berkata dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Talb&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;s Ibl&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; hal.21 : “Tidak ada keraguan bahwa ahli riwayat dan hadits yang mengikuti jejak Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan jejak para sahabatnya mereka itulah Ahlus Sunnah karena mereka di atas jalan yang belum terjadi perkara baru padanya. Perkara baru dan bid’ah hanyalah terjadi setelah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan para sahabatnya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Syaikhul Islam dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Fat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 3/157 :” Termasuk jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mengikuti jejak-jejak Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; secara zhohir dan batin dan mengikuti jalan orang-orang terdahulu yang pertama dari para (sahabat) Muhajirin dan Anshar dan mengikuti wasiat Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; tatkala berkata : “Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan hidayah setelahku berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’.”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan beliau berkata dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Fat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 3/375 ketika memberikan defenisi tentang Ahlus Sunnah : “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan apa-apa yang disepakati oleh generasi dahulu yang pertama dari kaum Muhajirin dan Anshar dan yang mengikuti mereka dengan baik”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan di dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Fat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 3/346 beliau berkata : “Siapa yang berkata dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan Ijma’ maka ia termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah“.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Abu Nashr As-Sijzy : “Ahlus Sunnah adalah mereka yang kokoh di atas keyakinan yang dinukil kepada mereka olah para ulama Salafus Sholeh -&lt;i&gt;mudah-mudahan Allah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; merahmati mereka&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;- dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; atau dari para sahabatnya -&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;-&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;pada apa-apa yang tidak ada nash dari Al-Qur’an dan dari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;, karena mereka itu -&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;- para Imam dan kita telah diperintahkan mengikuti jejak-jejak mereka dan sunnah mereka, dan ini sangat jelas sehingga tidak butuh ditegakkannya keterangan tentangnya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(Lihat : &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ar-Raddu&amp;nbsp; ‘Al&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Man Ankaral Harf&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; hal.99)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Maka jelaslah dari keterangan-keterangan di atas dari para Imam tentang makna penamaan Ahlus Sunnah bahwa Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang menerapkan Islam secara keseluruhan sesuai dengan petunjuk Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan Rasul-Nya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; berdasarkan pemahaman para ulama salaf dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik .&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan tentunya merupakan suatu hal yang sangat jelas bagi orang yang memperhatikan hadits-hadits Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; akan disyariatkannya penamaan Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang memenuhi kriteria-kriteria di atas.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; menyatakan dalam hadits ‘Irbath bin S&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;riyah -&lt;i&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/i&gt;- :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: normal; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ&amp;nbsp; صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ&amp;nbsp; صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُ مُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;“Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; sholat bersama kami sholat Shubuh, kemudian beliau menghadap kepada kami kemudian menasehati kami dengan suatu nasehat yang hati bergetar karenanya dan air mata bercucuran, maka kami berkata : “Yaa Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka berwasiatlah kepada kami”. Maka beliau bersabda : “Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat walaupun yang menjadi pemimpin atas kalian seorang budak dari Habasyah (sekarang Ethopia) karena sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan kepada sunnah&amp;nbsp; para Khalifah Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;.”. Hadits &lt;i&gt;shohih &lt;/i&gt;dari seluruh jalan-jalannya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan hal di atas. Wallahu a’lam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Lihat : &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mauqif Ahlis Sunnah Wal Jama’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/36-37, 47-49, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Haqiqatul Bid’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/63-66, 268-269 dan &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Manhaj Ahlus Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/19-20, 24-27.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ketiga : Definisi Jama’ah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Jama’ah secara lughoh : Dari kata &lt;i&gt;Al-Jama’&lt;/i&gt; bermakna menyatukan sesuatu yang terpecah, maka jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Majm&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;’ Fat&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;w&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 2/157 : “Dan mereka dinamakan Ahlul Jama’ah karena Al-Jama’ah adalah persatuan dan lawannya adalah perpecahan.”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Adapun secara istilah para ulama berbeda penafsiran tentang makna jama’ah yang tersebut di dalam hadits-hadits Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;, di antara hadits-hadits itu adalah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Satu &amp;nbsp;&amp;nbsp; : Hadits perpecahan ummat yang&amp;nbsp; telah disebutkan di atas &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dua &amp;nbsp;&amp;nbsp; : Wasiat Nabi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; kepada Hudzaifah dalam hadits riwayat Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry-Muslim , beliau berkata :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Engkau komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan Imamnya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;.”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Tiga &amp;nbsp;&amp;nbsp; : Hadits Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s riwayat Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry-Muslim Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; bersabda :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شَيْئًا فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Karena sesungguhnya siapa yang berpisah dengan Al-Jama’ah sedikitpun kemudian ia mati maka matinya adalah mati jahiliyah”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Empat &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Hadits Ibnu ‘Abb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; bersabda :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: normal; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Tangan Allah di atas Al-Jama’ah”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari hadits-hadits di atas dan yang semisalnya para ulama berbeda di dalam menafsirkan kalimat Al-Jama’ah yang terdapat di dalam hadits-hadits tersebut sehingga ditemukan ada enam penafsiran :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pertama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  : Jama’ah adalah A&lt;i&gt;ssaw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dul A’zhom&lt;/i&gt; (kelompok yang paling besar dari umat Islam). Ini adalah pendapat Abu Mas’&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d Al-Anshory, ‘Abdullah bin Mas’&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d dan Abu Ghalib.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kedua&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  : Al-Jama’ah adalah jama’ah ulama ahli ijtihad atau para ulama hadits, dikatakan bahwa mereka ini adalah jama’ah karena Allah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; menjadikan mereka hujjah terhadap makhluk dan manusia ikut pada mereka pada perkara agama.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Imam Al-Bukh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;ry menafsirkan jama’ah : ”Mereka adalah ahlul ‘ilmi (para ulama)”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan Imam Ahmad berkata tentang jama’ah : ”Apabila mereka bukan Ashh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bul Hadits (ulama hadits) maka saya tidak tahu lagi siapa mereka”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan Imam Tirmidzi berkata : ”Dan penafsiran jama’ah di kalangan para ulama bahwa mereka adalah ahli fiqh, (ahli) ilmu dan (ahli) hadits”. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan ini merupakan pendapat ‘Abdullah bin Mubarak, Ish&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;q bin Rahaway, ‘Ali bin Al-Madiny, ‘Amr bin Qais dan sekelompok dari para ulama salaf dan juga merupakan pendapat ulama ushul fiqh.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ketiga &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Al-Jama’ah adalah para sahabat. Hal ini berdasarkan hadits perpecahan umat yang di sebahagian jalannya disebutkan bahwa yang selamat adalah Al-Jama’ah dan dalam riwayat yang lain : “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Dan ini adalah pendapat “Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan Imam Al-Barbah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ry.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keempat &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Al-Jama’ah adalah jama’ah umat Islam apabila mereka bersepakat atas satu perkara dari perkara-perkara agama. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Asy-Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;thiby.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kelima&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin apabila mereka bersepakat di bawah seorang pemimpin. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Ats&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keenam &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Al-Jama’ah adalah jama’ah kebenaran dan pengikutnya. Ini adalah pendapat Imam Al Barbah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ry dan Ibnu Katsir.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Demikianlah penafsiran-penafsiran para ulama tentang makna Al-Jama’ah, yang semuanya itu akan membawa kepada kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Penafsiran-penafsiran tersebut walaupun saling berbeda lafadz dan konteksnya akan tetapi tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi makna maupun kriteria Al-Jama’ah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Maka jelaslah bahwa makna Al-Jama’ah yang dikatakan sebagai golongan yang selamat dan pengikut kebenaran adalah Islam yang hakiki yang belum dihinggapi oleh noda yang mengotorinya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mungkin bisa disimpulkan dari penafsiran-penafsiran Al-Jama’ah di atas bahwa makna Al-Jama’ah kembali kepada dua perkara :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 35.45pt; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Satu : Jama’ah yang berarti bersatu di bawah kepemimpinan seorang pemerintah sesuai dengan ketentuan syariat maka wajib untuk komitmen terhadap jama’ah ini dan diharamkan untuk keluar darinya dan mengadakan kudeta terhadap pemimpinnya .&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 35.45pt; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dua&amp;nbsp; : Jama’ah yang berarti mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; kemudian diikuti oleh para sahabatnya, para ulama ahli ijtihad dan ahlul hadits yang mereka itulah &lt;i&gt;Assaw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dul A’zhom&lt;/i&gt;&amp;nbsp; dan pengikut kebenaran. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; margin-left: 35.45pt; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata ‘Abdullah bin Mas’&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d tentang Al-Jama’ah :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkata Abu Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mah dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Al-B&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’its &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;hal.22 : “Dan apabila datang perintah untuk komitmen terhadap Al-Jama’ah, maka yang diinginkan adalah komitmen terhadap kebenaran dan pengikut kebenaran tersebut walaupun yang komitmen terhadapnya sedikit dan yang menyelisihinya banyak orang. Karena kebenaran adalah apa-apa yang jama’ah pertama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; dan para sahabatnya berada di atasnya dan tidaklah dilihat kepada banyaknya ahlul b&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;thil setelah mereka.”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Lihat : &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Al-I’tishom&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 2/767-776 tahqiq Salim Al-Hilaly, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Wa Manhaj Al-Asy’ariyah Fi Tauhidillah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/20-23, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mauqif Ahlis Sunnah Wal Jama’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/49-54, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asy’ariyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; 1/26-32.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kesimpulan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Bisa disimpulkan dari seluruh penjelasan di atas bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat. &lt;i&gt;Wal Ilmu ‘Indallah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(Sumber: Majalah An-Nashihah)&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2372882741997331666-4764187117584231409?l=tebar-cahaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/feeds/4764187117584231409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/ahlus-sunnah-wal-jamah-siapakah-mereka_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/4764187117584231409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2372882741997331666/posts/default/4764187117584231409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tebar-cahaya.blogspot.com/2008/11/ahlus-sunnah-wal-jamah-siapakah-mereka_23.html' title='Ahlus Sunnah Wal Jam’ah, siapakah Mereka? (Bag. II)'/><author><name>A | Kha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_3kHL__k-Q08/STzksmqXlMI/AAAAAAAAABw/gPl70ysv6Eg/S220/Globe2.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2372882741997331666.post-3526713953247991827</id><published>2008-11-23T08:02:00.001+07:00</published><updated>2008-11-23T08:18:48.390+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Ahlus Sunnah Wal Jam’ah, siapakah Mereka? (Bag. 1)</title><content type='html'>&lt;h6 style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Ust. Abu Muhammad Dzulqornain&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;Pertanyaan No. 1 :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: magenta; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dewasa ini marak pengakuan dari berbagai pihak yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sehingga menyebabkan adanya kerancuan dan kebingungan dalam persepsi banyak orang tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ?&lt;/span&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Jawab &lt;/b&gt;:&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan jalan yang lurus dalam menyembah Allah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; empat belas abad yang lalu. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pengenalan akan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah ditekankan sejak jauh-jauh hari oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; kepada para sahabatnya ketika beliau berkata kepada mereka :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: normal; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;”. Hadits &lt;i&gt;shohih&lt;/i&gt; dishohihkan oleh oleh Syaikh Al-Alb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dzil&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lil Jannah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan Syaikh Muqbil dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ash-Shohih Al-Musnad Mimm&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Laisa Fi Ash-Shohihain&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; -&lt;i&gt;rahimahumullahu&lt;/i&gt;-. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Demikianlah umat ini akan terpecah, dan kebenaran sabda beliau telah kita saksikan pada zaman ini yang mana hal tersebut merupakan&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;suatu ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Allah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; Yang Maha Kuasa dan merupakan kehendak-Nya yang harus terlaksana dan Allah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; Maha Mempunyai Hikmah dibelakang hal tersebut.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Syaikh Sh&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;leh bin Fauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n Al-Fauz&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n -&lt;i&gt;hafidzahullahu-&lt;/i&gt; menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Lumhatun ‘Anil Firaq&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;cet. D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rus Salaf hal.23-24 beliau berkata :&lt;i&gt; &lt;/i&gt;“(Perpecahan dan perselisihan-ed.) merupakan hikmah dari Allah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;berfirman (yang artinya) :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;\&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha Mengetahui orang-orang yang dusta”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(QS. Al-‘Ankab&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;t : 29 / 1-3).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan Allah&lt;/span&gt; Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (yang artinya)&amp;nbsp; :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : “Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(QS. H&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d : 10 / 118-119)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;berfirman (yang artinya)&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(اللأنعام : 35)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(QS. Al-‘An’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m : 6 / 35).”&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan Allah &lt;i&gt;’Azza wa Jalla&lt;/i&gt; Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya. Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda Rasululullah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;قَدْْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas petunjuk yang sangat terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hadits &lt;i&gt;Shohih &lt;/i&gt;dishohihkan oleh Syaikh Al-Alb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dzil&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lul Jannah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d -&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;b&gt;-&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp; :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ&amp;nbsp; صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلاَ &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Pada suatu hari Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(QS. Al ‘An’&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m : 6 / 153 )”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Diriwayatkan oleh : Abu Da&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d Ath-Thoy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lisy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya no. 244, Ath-Thobary dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tafsir&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 8/88, Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;As-Sunnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no.11, Sa’&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;d bin Mansh&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;r dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tafsir&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 5/113 no 935, Ahmad 1/435, Ad D&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rimy 1/78 no 202, An-Nas&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;i dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Kubr&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 5/94 no.8364 dan 6/343 no.11174, Ibnu Hibb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n sebagaimana dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Ihs&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/180-181 no.6-7 dan dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Maw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;rid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; no 1741, Al-H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;kim dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mustadrak&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya 2/348, Asy-Sy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;syi dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Musnad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;ya 2/48-51 no.535-537, Abu Nu’aim dalam&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-Hilyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 6/263 dan Al-L&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;lak&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’i dalam Syarah &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ush&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;l I’tiq&lt;u&gt;o&lt;/u&gt;d Ahlis Sunnah Wal Jam&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;’ah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1/80-81. Dan hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Alb&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ny dan Syaikh Muqbil dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ash-Shohih Al-Musnad Mimm&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Laisa F&lt;u&gt;i&lt;/u&gt; Ash-Shohihain&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Adapun penamaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini akan diuraikan dari beberapa sisi :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pertama : Definisi Sunnah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" style="margin: 0mm 0mm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sunnah secara &lt;i&gt;lughoh&lt;/i&gt; (bahasa) : berarti jalan, baik maupun jelek, lurus maupun sesat, demikianlah dijelaskan oleh Ibnu Manzh&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;r&lt;span style="color: magenta;"&gt; &lt;/span&gt;dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;Lis&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nul ‘Arab&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 17/89 dan Ibnu An-Nahh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Makna secara lughoh itu terlihat dalam hadits &lt;i&gt;Jar&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r bin ‘Abdullah&lt;/i&gt;. Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;AGA Arabesque&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; bersabda :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText2" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arabic11 BT&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;مَنْ سْنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ وَمَنْ سَنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Siapa yang membuat sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya dan siapa yang membuat sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dikeluarkan oleh Muslim dalam &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Shohih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;nya no.1017. &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Lihat &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mauqif Ahlis Sunnah Min Ahlil Bid’ah Wal Ahw&lt;u&gt;a&
